[2] Will You be There

Jatuh cinta, ketika kondisimu dalam keadaan yang krusial.

Akan menimbulkan sebuah petaka.

Entah untuk dirimu sendiri, atau orang lain.

__ 2__

Seungwoo meletakkan bunga diatas sebuah tanah bertanamkan nisan. Makam itu adalah pusara kedua orang tua Joona.

 

Disini, Seungwoo datang seorang diri karena Joona menolak untuk ikut andil dalam upacara peringatan orang tuanya yang tiada karena kecelakaan. Lelaki itu membungkukkan badannya sebagai salam hormat.

 

“Paman, bibi.. sudah dua tahun lewat, maaf belum bisa membawa Joona ke sini untuk melihat kalian .Joona kalian baik-baik saja, aku akan selalu menjaganya semampuku.”katanya bermonolog, setelah memberikan karangan bunga diatas tanah berundak itu, lelaki itu beranjak pergi.

∞∞∞

Joona hanya menghela nafas, begitu melihat deretan mobil SUV, mobil sport, dan Mercedez terbaru memenuhi lobi sebuah hotel dimana ada restaurant terkenal di Sky Lounge, yang pasti menjadi buruan orang-orang berharta itu, alih-alih ingin benar-benar akan untuk mengisi perut, sepertinya mereka berkumpul hanya untuk memamerkan kekayaan mereka yang tidak akan habis untuk tujuh generasi. Klise. Joona membenci itu.

Gadis itu sendiri, berada di hotel berbintang lima ini, lantaran memenuhi panggilan kerja paruh waktunya sebagai office girl hingga nanti malam.Orang-orang itu turun dari mobil mereka masing-masing, kecuali ada seorang tuan yang keluar dari mobil dan tidak mengikuti masuk orang-orang yang lebih tua darinya, ataupun lebih muda darinya. Semuanya berpakaian begitu mewah dan disambut oleh karyawan hotel, Joona tak begitu paham mengapa mereka diperlakukan begitu istimewa, atau mungkin jawabannya sudah Joona temukan –dari kata istimewa itu sendiri.

Joona bukan kalangan menengah kebawah sebetulnya, namun sejak akhir-akhir ini atau persisnya 1 tahun belakangan ia harus dengan berat hati menyandang status menengah kebawah pada kondisi ekonomi kehidupannya. Mengapa bisa? Ceritanya cukup panjang, mungkin kalau dinarasikan tidak akan selesai dalam satu hari.

Joona merasa seketika dunianya berhenti berputar ketika sorot matanya menangkap objek sosok seorang lelaki yang satu rombongan dengan orang-orang bertahta dan berkuasa tadi. Ia tidak mengikuti orang-orang yang mungkin saja –kerabatnya masuk ke dalam hotel. Ia masih berdiri di depan terrace lobby geraknya kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel, namun Joona seperti begitu terpesona setiap gerak-gerik orang itu.

Joona tak berkedip untuk sekian menit, lantas seorang yang berpakaian sama dengannya hanya saja berbeda gender kemudian mengaburkan lamunannya menjadi hancur berkeping-keping. “Joona –ssi.. jangan iri pada orang-orang itu.”katanya dengan dialek Ulsannya yang masih kental, mengira bahwa Joona memerhatikan sebuah keluarga kecil yang baru datang ke hotel mereka, padahal atensi gadis bersurai cokelat lurus itu sudah tersita pada satu orang lelaki berpostur tubuh model dengan black suitnya yang tak cukup rapih, setelah kerabatnya tadi meninggalkannya.

Seperti sebuah rekaman video, segala sesuatu tentang lelaki itu dari ujung kepala hingga ujung sepatu mengilatnya itu tersimpan sangat baik di memori otaknya. Joona kemudian kembali berfikir, bahwa menurutnya segalanya sampai sedetil apapun yang ada di dalam diri lelaki itu sangat terlalu sempurna untuk menjadi nyata.

“Aku tidak iri, aku pernah menjadi mereka dan itu cukup membuat hidupku ada di hari ini, Jeonghan –ssi..”sahutnya lalu kembali berjalan, meninggalkan terrace lobby –karena, Joona masih cukup tahu diri untuk mendapatkan kerja itu susah, ia juga kesulitan menafkahi dirinya sendiri, meski masih ada cukup uang tabungan, namun Joona bukan tipe yang senang dengan membuang uang hanya demi kesenangan mata sesaat.

∞∞∞

“Jadi, kapan kalian memiliki momongan, Jinhwan yang menikah dan istrinya Ji han saja sudah hamil padahal pernikahan mereka baru saja terlaksana sekitar 3 bulan.”goda paman Han, yang merupakan adik dari ayahnya, sementara yang dijadikan bahan omongan hanya tersenyum manis mendengar ocehan kerabatnya, beberapa kerabatnya ikut tertawa –termasuk beberapa anak bau kencur yang tak mengerti apa yang sedang dibicarakan juga ikut tertawa karena melihat ayah, ibu bahkan kakek –dan nenek mereka tertawa.

Hari ini, keluarga Jo dan keluarga Han mengadakan makan bersama, bingung mengatakan apakah ini makan malam ataukah makan siang, karena mereka sedang melangsungkan jamuan ini ketika jam menunjukkan pukul 16. 50 sore hari. Jadi, mari abaikan sejenak. Kita beralih pada pusat yang dijadikan bahan pembicaraan, dia adalah seorang lelaki tampan yang merupakan direktur hotel dimana ia berada, dan wanita cantik di sisi kanannya yang sangat anggun sedang menikmati steaknya yang merupakan dokter anak di Rumah Sakit Internasional Seoul. Dari sekian banyak yang menghadiri jamuan makan hari ini, memang hanya sepasang pasutri ini sajalah yang belum memiliki momongan padahal usia pernikahan mereka terhitung cukup matang untuk memiliki seorang anak yaitu dua tahun.

Rangka makan bersama dua pihak keluarga itupun dalam rangka merayakan Dua tahun umur pernikahan pasutri perfect itu. Sementara, dua pasutri itu tak cukup merasa senang begitu kerabat-kerabat mereka menyinggung soal momongan. Jina membathin dalam hati, Ini sebabnya aku selalu benci menghadiri pertemuan keluarga, selalu berujung pada omongan tentang anak. Namun, tidak seperti monolognya dalam hati barusan, ia dengan senyum anggunnya itu pun menjawab, “Kami memang belum mempunyai momongan bukan karena tidak mau, aku dan Chanyeol masih sangat bahagia walaupun hanya berdua. Keuchi, yeobo?”katanya kemudian yang hanya dibenarkan oleh suaminya, lesung pipinya kemudian mucul begitu ia tersenyum ramah, ikut berkompromi dengan istrinya meski itu sangat tidak mengenakkan hati. “Jina benar, ia juga sudah bertemu banyak anak-anak di Rumah Sakit. Aku percaya Tuhan akan memberikan seorang buah hati yang bisa aku banggakan pada kalian mungkin nanti.”tambah Chanyeol kemudian kedua insan itu saling berhi-five dibawah meja makan, menandakan keberhasilan mereka membuat orang-orang di satu ruangan itu menutup mulutnya.

“Itu bukan karena salah satu dari kalian ada yang tidak subur bukan? –maaf jika itu melukai perasaan kalian, karena orang-orang terus bergosip hal-hal semacam itu.” Jung Seonhwa memulai percakapan tidak berdasar itu, perkataan itu sontak membuat Chanyeol menghentikkan aktivitas makannya, ia pun tersenyum miring sedikit tak menerima respon yang sangat kurang ajar dari bibinya Jina. “Aniyeo.Dan, tolong jaga kata-kata anda di depan banyak orang. Anda tidak sedang bercakap dengan teman-teman komunitas sosialita anda, bibi Jung.”tegas Chanyeol lantas berdiri dari bangku yang ia duduki, selera makannya hilang seketika, sementara Jina menarik ujung jas suaminya itu, ia berbisik tidak ingin membuat dirinya malu karena tidak memiliki etika. “Chanyeol –ssi.. sudahlah..”

Namun, Chanyeol merasa ini sudah sangat kerterlaluan. Mengatakan hal seperti itu ditengah-tengah berlangsungnya makan keluarga, itu sangat tidak etis. Dimana sikap dan etika yang mereka punya? Ia memang terlahir dari keluarga emas, namun untuk apa jika tidak punya perilaku seperti emas juga, sangat memalukan.

Lantas, tanpa berkata lagi pada semua orang yang ada di sana, termasuk Jina –istrinya, Chanyeol berjalan keluar dan menghilang di balik pintu yang ia tutup dengan sedikit dibanting. “Maaf, sepertinya aku juga harus pergi.”ujar Jina pamit, lalu membawa tasnya dan blazer yang ia tanggalkan dan pergi dari sana.

Jina mencoba mengejar Chanyeol, akhirnya setelah cukup lama mencari ia menemukan suaminya sedang berdiri sendirian dengan mata tak menerawang kemanapun, lelaki itu hanya menatap langit luar yang mulai menggelap, Jina dengan hati-hati mendekat pada sang suami yang masih terlihat kesal dengan kejadian tadi. “Chanyeol –ra..” suara lembut itu menyapa pendengaran Chanyeol, lantas ia menoleh dan mendapati sosok Jina menghampirinya. Gadis itu bahkan masih sedikit tersenyum mencoba membuatnya semua baik-baik saja. Lantas, wanita bersurai hitam sebahu itu mengelus punggung suaminya, agar si suami meredakan amarahnya. Bagaimanapun juga, Jina mengerti betul bagaimana perasaan Chanyeol, “..Aku rasa tidak apa-apa untuk mereka mengatakan hal seperti itu, mereka punya hak untuk berpendapat..anggap saja angin lalu, hm?” Jina membujuk Chanyeol dengan suaranya yang rendah dan khas. Chanyeol lantas mengernyit heran dengan pemikiran istrinya, bagaimana bisa hatinya begitu baik pada semua orang? Yang jelas-jelas ingin menjatuhkannya, lelaki itu membathin, bukannya mereda, telinganya malah makin memanas saja mendengar Jina berucap seperti itu.

“Kau fikir, semua orang berhak untuk mengatakan hal-hal buruk alih-alih mengeluarkan sebuah pendapat? Sebelum itu, orang juga harusnya berfikir apakah itu akan menyakitkan atau tidak. Mereka punya kewarasan otak yang masih sinkron,kan? Han Jina, jangan membuatku tambah marah.” Chanyeol bernarasi panjang lebar, suaranya masih ditahan karena beberapa karyawannya yang masih lalu-lalang. Chanyeol benci untuk bertengkar dengan Jina di tempat umum, dan masalahnya selalu itu dan itu karena omongan tidak enak dari keluarga keduanya, baik Keluarga Jo ataupun keluarga Han.

Masih dengan lembut, Jina menanggapi. “Semua orang berpendapat pernikahan kita lebih bahagia dari pernikahan mereka karena kita belum mempunyai anak, lantas –kau juga percaya bahwa Tuhan akan memberikan kita keturunan meski bukan sekarang, bukan begitu?” Jina menyelesaikan ucapannya dengan nada tertahan disetiap kalimatnya, tentu, seperti kata yang ia ucapkan, ia mencoba terus percaya bahwa pasti Tuhan akan memberikan seorang keturunan meski tak jua ada, Jina berfikiran positif –mungkin tidak sekarang, dan aku harus menunggunya lebih lama lagi dan harus bersabar untuk itu. Itulah mind-set seorang wanita perfect seperti Han Jina, dan ia masih berfikiran seperti itu hingga detik ini ia menatap Chanyeol dengan mata yang berkabut, menahan segala air matanya yang bisa saja tumpah –ruah kalau saja ia berkedip sekali lagi.

“Kau benar-benar terlalu berperasaan, Han Jina. Sehingga kau tidak pernah cermat dengan apa yang mereka maksud. Mereka bilang seperti itu, karena kehidupan pernikahan kita tidak ada perjuangan lebih –karena kita tidak punya anak, tidak seperti mereka yang harus berjuang demi anak-anak mereka.”seru Chanyeol menyudutkan Jina tanpa sadar dengan apa yang ia ucapkan, lantas Jina menjatuhkan air mata pertamanya, dan segera mengusapnya dengan cepat. Ia merasa begitu memalukan di hadapan Chanyeol jika perbincangan ini terus berlanjut. Chanyeol ingin memegang tangan wanita itu, namun ia menepisnya.

“Cukup, kau benar-benar membuatku merasa hina sebagai seorang istri dengan kata-katamu. Aku pergi, jangan ikuti aku.” Jina berlari menuju elevator yang kebetulan terbuka di lantai mereka berada, ia lebih memilih mengalah setiap kali bertengkar, daripada harus membuat malu suaminya. Itu sama sekali tidak intelektual. “Jina –ya, tunggu..”panggil Chanyeol sedikit berteriak, terdengar begitu frustasi, namun Jina terus berjalan dan masuk ke dalam elevator mengabaikan panggilan Chanyeol hingga pintu elevator tertutup. “..Han Jina!!”

∞∞∞

“Nona!!” samar-samar Joona mendengar suara itu, lantas ia masih berjalan toh mungkin saja bukan dia orang, yang orang itu panggil. Selanjutnya, suara klakson mobil memekan telinganya, detik berikutnya seperti kilatan Guntur ia sudah terjerembab di aspal, meski kepalanya seperti ditahan oleh sesuatu yang empuk.

Joona terdiam saja, matanya memicing begitu ia mencoba memfokuskan pengelihatannya yang buram, lantas seperti dunianya berhenti –tak perduli dengan rasa sakit yang mendera di tubuhnya tiba-tiba saja orang itu muncul dalam pandangannya. Lalu, spontan lelaki itu bertanya, “Gwaenchanha-seyeo?agasshi?” guratnya begitu khawatir menatap gadis itu. “T-tidak apa-apa, Tuan.. terimakasih sudah menolongku.”ucapnya terbata,lalu ia dibantu bangun oleh lelaki itu. Ia terlalu mabuk untuk membedakan apa ini realita ataukah hanya mimpi, dan ia tidak mau dilibatkan oleh hal membingungkan itu.

Mencoba mengumpulkan kesadaran yang buyar karena alkohol, gadis itu membungkukkan badannya di hadapan lelaki yang menolongnya. “Terimakasih sekali lagi,Tuan yang aku tidak tahu namanya.”katanya dengan nada yang begitu serius, mendengar sebutan itu membuat si lelaki dengan mata bulatnya tertawa bahkan sampai terpingkal, pendengaran dan otaknya masih cukup sadar untuk seseorang yang hanya meneguk 2 tegukkan alkohol kadar rendah. “Aku punya nama, namaku Jo Chanyeol. Dan namamu, nona yang aku tidak tahu namanya?”

Kini, terbalik, gadis itu yang tertawa, ia bahkan merasa ini adalah tertawa terpingkal pertamanya setelah dua tahun. Menyedihkan? Namun, kenyataannya memang begitu, hidup gadis ini tak pernah begitu berwarna sejak tahu kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Hidupnya seperti dalam bayangan gelap, selama dua tahun ini.

Ia kemudian mengulurkan tangan, menginterupsi agar lelaki itu menyambut hangat perkenalan tidak terduganya. “Namaku Joona, Ra Joona.”

Lelaki itu tersenyum dan menyambut jabat tangan Joona, “Jo Chanyeol, dan –apa ini milikmu?”tanya Chanyeol lalu menunjukkan dompet hitam yang ia pegang ditangan kirinya. Joona terkejut, lalu meraba tas kecilnya yang mirip dengan snap-bag kemudian mengangguk, “Oh, apa itu terjatuh di Bar tadi?”tanya Joona dengan wajah polosnya, membuat Chanyeol segera memberi penilaian bahwa gadis ini benar-benar manis selain bentuk wajahnya yang lucu dan berpipi chubby meskipun ia bertubuh kurus. Ia kemudian mengangguk dan menyerahkan dompet hitam itu pada pemiliknya. Ia kemudian berjalan berbalik meninggalkan Joona yang masih mengecek isi dompetnya, setelah itu ia mengernyit melihat kepergian lelaki bernama Chanyeol itu, “Tuan, sebagai tanda terimakasih..bolehkah aku mentraktirmu bir?”tanya Joona dengan wajah penuh harap, tentu saja –selain ia berniat balas budi atas pertolongan lelaki itu, orang itu adalah seseorang yang menyita perhatiannya pada saat part-timenya di Hotel Venice tadi. Kemudian, lelaki itu menoleh ia bertanya, “Kapan?”tanya Chanyeol, “Sekarang juga?”tanya Joona memberikan luang untuk Chanyeol berfikir, ia sedang tidak mood menjadi seorang pria yang sudah beristri, lagipula, gadis itu hanya mentraktirnya bir –jadi, bukankah itu tidak masalah sama sekali? Akhirnya ia pun mengulas senyum yang menampilkan lesung pipinya, “Setuju!”

∞∞∞

“Jadi, ceritakan tentang dirimu, Joona –ssi?”Chanyeol meminum bir yang ia tuang ke botol, kini mereka berada di sebuah tempat rahasia milik Joona yang hanya dia seorang yang tahu, sedangkan tempat yang sering Seong Woo kunjungi adalah flat yang ditinggalkan oleh orang tua Joona sebelum meninggal. Keduanya sudah cukup mabuk, namun masih cukup nyambung untuk berbincang. Joona hanya mendehem panjang, lantas ia menyandarkan tubuhnya di sofa yang ia duduki, sedangkan Chanyeol berada duduk di karpet. “Entahlah,tidak ada yang istimewa kecuali sebelum dua tahun lalu.”

Chanyeol mengernyit mendengar perkataan Joona, “Sebelum dua tahun lalu.. maksudmu?”tanya Chanyeol yang disambut anggukkan oleh Joona, ia lalu ikut duduk di samping Chanyeol, dan mulai bercerita –ekspresinya begitu muram saat mengenang kembali kejadian dua tahun lalu. “Sebelum orang tuaku meninggal, aku bekerja di sebuah tempat untuk tour guide, banyak negara-negara eropa dan asia yang sudah aku kunjungi sebelumnya. Hingga, Jepang menjadi tempat terakhirku untuk bertugas sebelum akhirnya aku mendapat libur dan kembali ke Korea –aku sudah mereservasi restaurant untuk kedua orang tuaku untuk makan bersamaku, namun, paginya aku mendapat kabar bahwa mereka kecelakaan dalam perjalanan menuju restaurant itu setelah sebelumnya mereka melakukan perjalanan dari Busan. Hidupku seakan berbalik 180 derajat setelahnya..”Joona terdiam, lantas dalam kebisuan singkatnya air mata sudah mengalir dari kelenjar air matanya yang tak dapat berkompromi.

Namun, sebuah tangan mengusap pipi Joona yang basah, itu Chanyeol seraya berkata “Jangan merasa bahwa kau tak dapat melanjutkan hidup, jika kau masih diberikan waktu untuk bernafas maka hiduplah dengan baik –jangan biarkan orang tuamu sedih saat melihatmu dari langit jika kau tenggelam bersama duka dan hidup dalam bayangan kegelapan, Joona.”

Lantas, begitu usai berbicara, Joona dengan cepat mengecup bibir lelaki itu tanpa permisi. Chanyeol hanya menatapnya tak mengerti, lantas Joona merasa salah tingkah dan hanya menunduk enggan menatap Chanyeol.Sempat hening terjadi diantara mereka.

Kemudian, tangan Chanyeol menangkup pipi Joona dan mendekatkan wajahnya. Joona memejamkan matanya dan keduanya mulai bercumbu. Begitu menikmati sentuhan dari Chanyeol, Joona mulai bisa mengikuti alur permainan Chanyeol. Masih terus saling melumat bibir dan saling membalas, Chanyeol mulai membaringkan Joona di lantai berkarpet itu. Bibir mereka yang tertaut kemudian terlepas, karena Chanyeol kini beralih pada leher jenjang Joona yang terkespos sempurna karena gadis itu hanya memakai t-shirt putih tipis. Joona hanya menikmati setiap sentuhan lelaki itu, lantas kini mereka kembali bercumbu, begitu mesra dan panas. Chanyeol kemudian berdiri dan mengajak Joona untuk bangun, mereka terus berciuman hingga masuk ke dalam kamar dan menikmati permainan panas itu di sana.

 

To be continued..

Iklan

Give Your Comment ~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s