[1] Will You Be There

wybt

Title | Will You be There

Author|RHYK

Cast|  Rose [Blackpink]     as Ra Joona

            Park Chanyeol [EXO] as Jo Chanyeol

            Han Sunhwa as Han Jina

Additional Cast| Ong Seungwoo [Wanna One] as Ha Seungwoo

                                    Yeri [Red Velvet] as Soojin

Length| Chapter

Genre| Alternate Universe – Drama – Romance –Sad –Life – Marriage life

Disclaimer| Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Quotes| Dalam kisah ini, akankah seseorang menantiku di sana?

Poster by NJXAEM AT Poster Channel thanks for your arts

Previous Chapter| [0] Teaser >>

[1] Domino>>

Summary this Chapter|

Permulaan kisah 3 insan baru saja di mulai. Ini serupa dengan takdir yang mengikuti manusia, ataukah hanya sepotong nasib yang seperti domino?

Jika satu papan domino terjatuh untuk yang lain dan menjatuhkan yang lainnya. Ini tidak sama dengan domino, aku hanya terjatuh untuk dia, tetapi dia tetap tidak mencintaiku meski aku dapat melanjutkan sebuah kehidupan baru untuknya.

♧♧♧

 

Suara-suara khas pagi hari memenuhi sebuah flat di daerah pinggiran Seoul. Suara mesin pembakar roti, air wastafel yang mengalir, siaran berita pagi, suara mesin cuci dan suara lainnya yang sedang sibuk tergesa-gesa menutup botol liptint berwarna hingga nyaris tumpah.

 

Ia mengacak rambutnya frustasi, mengumpat sesumbar dengan bahasa Jerman yang pernah ia pelajari saat internship exchange saat masa perkuliahannya yang usai 3 tahun lalu. Perhatikan, gadis ini bukanlah anak dari pewaris kaya yang memiliki perusahaan bergengsi namun, gadis ini hanyalah seorang gadis biasa yang selalu diikuti dengan anugerah dan keberuntungan.

 

Ia mematikan seluruh alat elektronik yang menyala, memakan sepotong roti bakarnya dan meminum setengah gelas susu full-cream yang ia tuang dua jam yang lalu. Cepat-cepat ia menggunakan sepatunya, mengunci pintu flatnya dan berlari menuju elevator yang hampir tertutup jika saja seorang anak sekolah dasar tak menahannya.

“Terimakasih.” ucapnya singkat pada anak itu, sementara ia hanya menyengir merespon terimakasih dari gadis itu. Elevator segera meluncur kebawah dalam waktu lima belas detik. Begitu pintu elevator terbuka, gadis itu segera berlari seraya mengantongi ipod yang telah tersambung dengan headphone yang terpasang ditelinganya. Ia menyebrang jalan dan

 

brak!

 

Tragis.

 

Gadis itu terpental dua puluh meter dari tempatnya berdiri.

 

***

kring.. kring.. kring…

 

Jam wekernya berbunyi, seketika ia membuka matanya sontak terbangun dengan peluh yang banjir membasahi permukaan kulitnya.

 

Ia menyapu pandang ke sekeliling, kemudian menghela nafas lega begitu ia sadar itu hanya mimpi buruk. Ia menyingkap rambutnya, menariknya ke belakang dan menguncirnya dengan sebuah karet rambut berpita warna biru. Biru adalah warna favoritnya.

 

Dering telfon adalah hal selanjutnya yang membuatnya kembali tersentak. Dengan malas, ia berjalan menuju meja depan televisi mengambil ponsel miliknya yang sengaja ia tidak bawa masuk ke dalam kamar. Sebelum ia tiba, dering itu berhenti. Ia meraih ponselnya, menyalakan layar yang berlockscreen sebuah lukisan bergambar seorang gadis yang terhempas di langit.

Ada notifikasi atas panggilan dari nomor yang sama sebanyak 23 kali panggilan tak terjawab. Namun, atensinya masih pada lockscreen ponselnya, suatu kali ia berfikir bagaimana rasanya menjadi gadis yang ada di lukisan itu? Tenang, damai, hancur ataukah menyakitkan?

 

Lamunannya buyar begitu dering ponselnya kembali memenuhi ruangan yang ia pijak. Gadis itu menjawab, “Halo?”

Suara diseberang terdengar begitu tergesa dan cemas seakan situasi di sana penuh dengan tekanan. “Joona-ya..”suara itu memanggil nama si gadis dengan nada miris, si penelfon bahkan terdengar terisak sambil menjelaskan pada gadis bersurai coklat itu.

 

Detik berikutnya, kedua bola mata Joona hampir lolos melompat keluar, bulir bening itu keluar tanpa izin dari kelenjar air matanya.

 

♧♧♧

 

“Kami turut berduka, Joona-ya..”ucapan penuh kesedihan itu ditujukan untuk Joona, orang-orang termasuk juga kerabatnya. Satu persatu orang mulai meninggalkan pusara yang masih segar dengan bau tanah yang basah akibat hujan yang baru saja reda.

 

Bibir Joona mulai bergetar, tangannya mulai keriput karena dingin, tubuhnya mulai mengigil seiring bajunya yang basah menyelimuti tubuh kurusnya. Rambutnya menutupi wajahnya, ia melupakan tentang kunciran pita birunya. Ia hanya tahu bahwa baru saja orang tuanya terkubur dibawah tanah yang tiada akibat kecelekaan masih dalam hitungan kurang dari 12 jam.

 

Joona merasa aneh dengan apa yang ia alami. Semuanya tampak seperti mimpi baginya. Kini, sepertinya harus mencari sesuatu yang bisa membuat ini semua berakhir, agar ia terbangun dari mimpi buruknya. Atau, jika tidak bisa, seseorang tolonglah guncangkan tubuhnya agar ia terbangun. Namun, sepertinya tidak ada yang sudi untuk membangunkan Joona, hingga waktu berlalu melewati Joona tanpa permisi sebanyak dua tahun.

 

♧♧♧

 

2 tahun kemudian..

 

“Tahun ini adalah pernikahan kita yang kedua -‘

suara itu masuk ke pendengaran orang-orang yang berada satu kendaraan dengannya. Namun, gadis itu hanya mengajak bicara seorang yang berada di sisi sebelah kanan back-seat dari tempat kemudi.

 

Namun, alih-alih mendengarkan, yang diajak bicara hanya mengangguk merekahkan sebuah senyum seraya melihat ke arah luar, sebuah sisi tepi jalan ada seorang gadis yang membagikan sebuah brosur resto yang baru saja buka. Kebetulan, ia memang melihatnya, jadi ia tahu.

 

“Aku kira dizaman ini tidak ada orang seperti itu.”lelaki itu beropini, sementara dua orang yang duduk di bangku kemudi dan sisinya ikut melihat sekilas apa yang menjadi atensi orang yang beropini tersebut.

 

“Aku rasa benar, Tuan.”sahut lelaki berpakaian rapih yang duduk di depan si pria yang beropini tadi. Siapa saja bisa tahu, bahwa lelaki muda yang berada di back-seat adalah atasan dari pria yang duduk di bangku sisi kemudi.

 

“Aku kira kau mendengarkanku, chagi..”katanya lesu, ia mengerucutkan bibirnya melihat cermin yang ia pegang di tangan kirinya.Kemudian membenarkan posisi kalungnya yang sempat terbalik.

 

“Aku mendengarmu..”sahut lelaki yang berada di sisinya. Kemudian, ia merekahkan sebuah senyum yang membuat sebuah lesung di pipi kanannya. Ia mengambil alih cermin itu, dan mengenggam kedua tangannya. Ia menatap gadis itu hangat, dan membuat si gadis juga menatapnya.

“Aku tidak melihatmu saat bicara bukan berarti aku tidak mendengarkan. Aku tahu kau membicarakan soal ulang tahun pernikahan kita yang kedua, Jina. Memang apa yang kau inginkan?hm?”

 

Gadis itu nampak berfikir, ia kemudian tersenyum. “Selalu bersamamu tanpa ada orang ketiga diantara kita menurutku sudah lebih dari cukup.”jawab gadis bersurai coklat itu. Matanya berkaca-kaca, mengatakan hal seperti itu tiba-tiba saja membuatnya menjadi melankolis seketika. Lelaki itu tersenyum, kemudian mengecup kening istrinya itu penuh sayang. Hingga, dua orang tua di depannya terlihat iri dengan kemesraan mereka.

 

♧♧♧

“Terimakasih, tuan.” Joona berterimakasih pada manajer resto itu. Ia mendapat bayarannya hari ini. Waktu kerjanya sudah usai, ia segera beranjak untuk pulang. Rutinitas gadis itu selalu sama selama dua tahun ini. Sebelumnya, gadis itu tak pernah bekerja paruh waktu seperti ini, Joona adalah seorang guide sampai kurun waktu dua tahun lalu, dimana pagi yang menyambutnya dengan sebuah mimpi buruk. Hari itu pada dua tahun lalu adalah hari keduanya ia berada di flatnya setelah diberikan waktu berlibur sebulan penuh dari tempat kerjanya yang berada di Jepang.

 

Joona ditugaskan disana untuk menjadi tour guide untuk turis-turis mancanegara. Namun, kini ia masih berada dalam mimpi buruknya. Hingga gadis itu tak dapat kembali bekerja seperti dulu.

 

“Itu bukan maumu, itu adalah tuntutan pekerjaan- Joona..”

 

Temannya Seungwoo berkata demikian pada dua tahun lalu, bahkan hingga dua hari lalu ia masih mendengar kalimat yang sama persis dari Seungwoo. Namun, Joona masih terjebak dalam mind-set yang sama.

 

“Aku meninggalkan kedua orang tuaku. Mungkin, tanpa aku sadar aku mengabaikan mereka. Jadi, Tuhan memberiku mimpi buruk ini.” Joona menjawab ucapan Seungwoo, membuat lelaki itu hampir terbias depresi Joona karena gadis itu terlalu memiliki watak yang keras dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain.

 

“Ini hidup. Hidupmu bukan sekedar mimpi buruk, Ra Joona.., manusia juga akan memiliki mimpi yang indah, begitu juga dengan hidupmu.” Seungwoo menatap mata Joona yang penuh tekanan itu dengan jenis tatapan bahwa semua akan membaik, dan Joona harus percaya dengan kata-katanya.

 

“Lalu, kau bilang.. akan ada mimpi indah juga dihidupku. Benar?” Joona menatap Seungwoo dengan jenis tatapan bertanya. Ia masih ragu tentang itu. Seungwoo tak langsung menjawab, ia memilih mengusap air mata yang sudah melewati pipi Joona hingga membuat permukaan kulitnya lengket. “Benar..”

 

“Jika benar, apa keberuntungan dan anugerah yang sering kau bilang bahwa itu hadiah Tuhan, bisakah kau membuatnya kembali dan ada untukku?”

 

“Mungkin bisa, tetapi jika kau yang membuatnya sendiri, bukan aku. Anugerah yang kau dapat karena kau sudah berusaha dengan baik atas hasil kerja kerasmu, kau pun tahu bahwa segalanya membutuhkan waktu.”

 

“Tapi tidak ada yang memberikanku cukup waktu untuk ayah dan ibuku. Mereka mati pada saat hari dimana aku seharusnya mengunjungi mereka untuk makan siang bersama di sebuah restaurant yang sudah aku reservasi.”ujarnya lagi, gadis itu kembali berlinangan air mata, dua tahun berlalu namun itu seperti kejadian kemarin siang untuk Joona. Sebetulnya, Joona bukanlah tipikal gadis cengeng yang akan menangis sebentar-sebentar. Namun, insiden itu membuatnya jadi seperti ini.

 

Seungwoo memejamkan mata sebentar, ia merasa frustasi juga dengan Joona yang berubah 180° dari Joona yang ia kenal tak pernah menangis sekalipun hal sulit menerpanya. Joona juga gadis normal biasa yang menikmati kehidupannya dengan baik. Joona hanya mengenal cinta yang ada sebanyak yang ia miliki hanya untuk orang tuanya dipersentase pertama. Dipersentase terakhir hanya ada tersisa 15% bahwa ia butuh cinta di luar garis keluarga dan kedua orang tuanya.

 

Gadis itu bangkit, berlalu dari pandangannya. Ia membawa dompet dan juga sweater hitamnya, kemudian meninggalkan Seungwoo tanpa kata.

 

♧♧♧

Lelaki itu mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan maksimal. Fikirannya kalut, saat seperti ini selalu datang menerpanya. Ia ingin berteriak di restaurant mahal itu tetapi tidak bisa, alih-alih tidak ingin membuat malu keturunan keluarga besar Jo, ia memilih pergi lebih dulu dan menenangkan fikirannya di jalanan besar yang tidak lagi ramai, jam orang pulang kerja sudah lewat, pelajar juga tidak mungkin membawa mobil mereka sendiri, umumnya lebih memilih naik bus atau subway untuk menuju rumah mereka masing-masing. Ia masa bodoh dengan itu semua.

 

Ia butuh ketenangan.

 

Jauh dari hidup pernikahannya yang banyak orang bilang bahwa ia begitu bahagia dengan sang istri. Dan juga, keluarga besar Jo yang punya tuntutan besar bukan main.

 

Ia mengambil lajur kanan keluar dari jalur pertama ia berada, memilih berbelok ke sebuah bar kalangan elit, menjadi destinasi pria itu untuk menenangkan fikirannya, dan keluar dari kehidupan membosankan miliknya sejenak.

 

Lelaki itu masih belum duduk, namun dari kejauhan sudah ada yang tersenyum padanya. Tentu, dia seorang lelaki tampan juga sedang berdiri di balik meja bartender.

 

“Yo, Pewaris keluarga Jo.. ada apa kemari dengan ekspresi gundah itu?”tanya si bartender berparas blasteran itu, namun bukan blasteran sungguhan. Itu hanya umpama.

 

Lelaki itu tersenyum mencebik, ia mengangkat bahunya tak ingin berkomentar. “Berikan aku alkohol rendah saja.”

 

“Kenapa?”

 

Lelaki bermarga Jo itu dengan malas menjawab, “Aku masih harus menyetir.”

 

Bartender itu meng-ohkan jawaban lelaki itu. Dan, ia mulai meracik alkohol yang diminta dan menuangkannya ke dalam gelas kecil yang sudah berisi es.

 

Sementara itu, setelah alkohol itu ia minum barang dua teguk, ia beranjak karena tiba-tiba kebutuhan alamnya mendesak.

 

Tiba-tiba saja ia menabrak seorang gadis yang baru saja keluar dari toilet. Gadis itu hampir terjungkal kalau saja ia tak segera menahan punggung gadis itu, dan mengembalikan gadis itu ke posisi berdiri yang benar.

 

Lelaki itu menatap si gadis sebentar, ia bahkan tau betul bahwa gadis ini sudah mabuk. “Maaf, Tuan.” katanya lalu kembali berjalan dengan langkah yang sempoyongan. Lelaki itu tak menjawab dan segera masuk ke toilet karena ia sudah tak tahan untuk buang air kecil.

 

Lelaki itu keluar dari toilet, namun langkahnya terhenti begitu ia melihat dompet terjatuh, ia pun memutuskan untuk melihat siapa pemilik dompet itu dari kartu identitasnya.

 

“Maaf, kau melihat gadis dengan sweater hitam?” tanyanya pada salah seorang waitress yang lewat.

 

“Tidak..”

 

Lelaki itupun berterimakasih dan tak lupa ia mengulas senyum. Lantas, ia kembali ke mejanya, mengeluarkan uang selembar 50000 won dan menaruhnya di meja.

Begitu ia keluar, tak jauh dari Bar, ia melihat gadis itu sedang berdiri di dekat tiang penyebrang jalan. Gadis itu mulai melangkah pelan meski sempoyongan.

 

Matanya membulat sempurna begitu ia melihat bahwa lampu masih merah untuk penyebrang jalan, ia berlari dan berteriak. “Nona!!”

 

Bersambung..

a.n

Meski belum tahu nanti selesainya kapan, sepertinya kali ini tidak akan sebanyak LET ME IN, karena persoalannya cuman satu. Semoga aja, gak mengakar ke hal lain, jadi aku akan menulis ini untuk 10 sampai 15 chapter aja. Harapannya, semoga respon ff ini kedepannya bagus. Meski awalnya belum jelas, akan ada penjelasan setiap awal chapter. Sepertinya akan banyak Sebab-akibat di kisah Joona –Chanyeol –Jina.

 

Find me on: Wattpad | Instagram | My World

 

Iklan

Give Your Comment ~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s