[Part 1] Second Time -New Version-

The Second Time [New Ver.]

#1

 

***

– – Beberapa orang mungkin menyia-nyiakan hidup mereka. Beberapa orang lain mungkin mengeluh tentang hidup mereka. Namun, ada beberapa orang lain yang memohon pada Tuhan agar hidupnya diperbaiki. Agar hidup mereka jangan direnggut. Dan, beberapa orang diberi kesempatan. Serta, ada yang tidak diberi sama sekali karena kurangnya rasa syukur. – –

 

×× THE SECOND TIME××

Rooftop Seoul Han Hospital

 

“Jika ada dua pilihan dalam hidupmu, antara hidup dan mati. . mana yang akan kau pilih?” sebuah pertanyaan yang menggema diantara udara lepas diatas atap rumah sakit membuat seorang gadis yang sedang berdiri merenung seorang diri disana dibuat menoleh olehnya. Pertanyaan itu diajukan oleh seorang lelaki dengan mantel hitam dan surai dengan warna senada. Hidungnya tampak merah menahan dingin, ia berhenti melangkah sekitar lima meter dari gadis itu berdiri.

 

“Pertanyaannya cukup membuatku terkejut.–‘ cibir gadis dengan pakaian rumah sakit itu remeh, meski begitu tak dapat dipungkiri bahwa gadis itu merasa kebalikan dengan apa yang baru saja ia katakan didepan lelaki itu.

“. . jika kau memintaku untuk menjawab, aku memilih mati.”lanjut si gadis dengan yakin, walau matanya kini berkabut. Ia menghela nafasnya yang berasap karena suhu udara yang menurun drastis sejak beberapa hari lalu. Sebetulnya, kalau saja lelaki itu telat sekian menit saja gadis itu pasti sudah menjadi bagian remuk dibawah dan berlumuran darah, namun batal. Entahlah, ia merasa perenungannya untuk bunuh diri sia-sia.

Lelaki itu meyembunyikan nafas terengahnya, ia mengantongi kedua tangannya kedalam mantel.Selangkah ia kembali berjalan menuju gadis itu masih berdiri.

“Kenapa?Memangnya jika kau mati, kau akan menyelesaikan masalah begitu? dengan kau mati nenek dan pamanmu tak ada beban lagi begitu ya?–‘ cerca lelaki itu yang kini tinggal berjarak beberapa langlah lagi, namun gadis itu masih termangu, ia hanya memandang lelaki itu dalam diam, bibirnya kelu untuk menjawab kata-kata lelaki itu.

“. . memangnya, kau pikir hanya kau yang memiliki masalah hidup? tidak, Eun Ji. Aku punya masalah, nenek, pamanmu dan Cho Rong juga pasti punya masalah.Hanya saja, mereka tidak mengeluh. Tuhan memberikan semua masalah kepada manusia yang ada didunia tak terkecuali dirimu. Tapi, semua memiliki masalah dari aspek yang berbeda. Tuhan memberimu sakit, ia hanya ingin mengujimu, apa kau berhak untuk tetap tinggal didunia. Bahkan, diluar sana banyak yang memiliki kesulitan lebih darimu. Semua masalah yang ada pasti Tuhan juga menyediakan solusinya, Eun Ji. Begitu juga denganmu yang sakit, pasti kau bisa sembuh dengan operasi ini. Percayalah padaku. .”

 

“Tapi – -‘

“Dengar, perlu kau tau orang yang hidup pasti akan mati. Tapi, jika kau memilih mati? kau tidak akan merasakan bagaimana keindahan yang ada dalam hidup, bagaimana berharganya hidup. bagaimana berharganya dirimu untuk orang yang kau sayang. Kau tau? masih banyak hal yang harus kau alami dalam hidup. Setelah rasa sakit, bahagia itu telah menunggumu, Jung Eun Ji. Kau sudah berjuang begitu jauh, lawan penyakitmu pasti Tuhan akan memberikan jalan keluar untukmu. Anggaplah seperti kau ingin pulang disaat pertandingan bola sudah setengah jalan karena idolamu kalah dalam babak pertama,tapi kau ingat bagaimana bisa kau masuk dan menontonnya.Ternyata, kau menemukan tiket disekitar stadion,padahal kau baru saja kehabisan tiket dan saat itu kau sangat ingin menontonnya daripada tiket itu sia-sia akhirnya kau tetap menontonnya hingga selesai dan ternyata diakhir pertandingan, idolamu yang memenangkan pertandingan.Tuhan pasti sudah memberi kejutan untukmu nanti, percayalah. Aku juga percaya bahwa kau adalah yeoja yang kuat, Jung Eun Ji. .” lelaki itu tersenyum penuh arti, gadis itu berjalan dan memeluk lelaki itu erat, likuidnya jatuh juga. Lelaki itu membalas peluk gadis itu, ia mengelus rambut hitam Eun Ji.

 

Likuid gadis itu masih mengalir deras, dibawah udara Seoul yang dingin dibawah langit malam yang temaram. Gadis itu masih tak mengerti, mengapa hatinya bisa selalu luluh ketika teman lelakinya yang membujuknya untuk tetap bertahan dalam kondisinya ini. Bahkan lelaki itu adalah termasuk lelaki yang ia benci. “Terimakasih Myungsoo -ah. .” ujar Eun Ji lalu melepaskan dekap lelaki itu, diusapnya air mata Eun Ji dengan telapak tangan Myungsoo. “Ayo masuk, kau akan kedinginan.” ujar lelaki itu.

 

×THE SECOND TIME×

“Nona Jung Eun Ji, persiapan operasi sudah beres.” ujar seorang perawat seraya mengecek tanda vital gadis itu. “Beri aku waktu sebentar, aku ingin berbicara pada temanku dulu, perawat. .” ujar Eun Ji memohon agar diizinkan untuk berbicara dengan Myungsoo sebelum semuanya usai. Usai dalam artian ada dua hal yang dimaksudkan antara setelah operasi ini Eun Ji membaik, atau setelah operasi ini Eun Ji makin memburuk. Karena, operasi ini dilaksanakan untuk pertama dan terakhir kalinya, resiko terburuknya adalah Eun Ji bisa mati otak pasca -operasi ataupun meninggal.

“Baiklah, panggil aku jika sudah selesai dan kau siap, omong-omong temanmu itu tampan juga.” goda si perawat terkekeh lalu keluar ruangan. Eun Ji hanya menggeleng dan melihat kearah Myung soo yang sedang memandang langit luar. “Myung soo?” panggilan Eun Ji membuat Myungsoo segera mengalihakan pandangnya pada Eun Ji yang masih tidur diatas brankar, ia juga memakai infus ditangan kirinya. “huh?kenapa, kau cemburu perawat tadi bilang aku tampan?”

Eun Ji memutar matanya “Imajinasimu ketinggian.Oh ya, ada yang ingin aku katakan padamu.” ujar Eun Ji. “Apa?” tanya Myung soo masih cuek.

“Nanti saja, setelah aku selesai operasi. –kau ada yang ingin kau bilang padaku juga bukan?” selidik Eun Ji.

Mata Myungsoo terbelalak, ia lalu tertawa renyah. “Heol!kau tau dari mana?”

Eun Ji menunjuk mata Myungsoo yang teduh. “Mata itu menjelaskan semuanya.Katakanlah kau ingin bicara apa?”

Myungsoo menggeleng, malahan alih-alih mengalihkan topik lelaki itu malah memegang tangan Eun Ji erat, digenggamnya jemari itu dan mengisinya dengan kehangatan. Eun Ji terdiam seketika. Ia tak menyangka bahwa lelaki yang sempat ia benci kini nenjadi hangat padanya seketika.

“Beritahu aku, siapa yang akan memenangkan pertandingannya. Aku berjanji tak akan meninggalkanmu setelah ini. Dan, maafkan aku karena telah membuatmu kecewa, Jung Eun Ji. .tentang pertandingan,kau harus menang.”

“Hei, sejak kapan kita dekat seperti ini, lagi? aku tetap membencimu. .tapi, karena kau sudah meminta maaf padaku. . aku memaafkanmu.”

 

“. .hei! aku itu mengenal Myungsoo yang kuat, lagipula kau itu lelaki, jangan cengeng!operasi itu bukan hal yang menakutkan, kau juga pasti tahu itu. Kau mengenalku.”

“Aku tahu, kau adalah gadis yang kuat, Jung Eun Ji.”

“Kau benar!Berikan aku pelukanmu sebelum aku operasi.” Myungsoo tak menjawab, ia hanya segera membawa dirinya mendekap tubuh mungil Eun Ji.

 

Setelah usai berbincang dengan Myungsoo, Eun Ji segera dibawa menuju ruang operasi, Eun Ji diantar oleh sang nenek, pamannya dan tentu saja Chorong dan Myungsoo. Nenek Jung terlihat khawatir melihat keadaan cucunya dan pintu operasi yang berada diujung lorong rumah sakit, wanita tua renta itu tak hentinya menitikkan air mata.

“Kau pasti akan baik-baik saja didalam sana, Eun Ji cucuku. .”

Eun Ji tersenyum samar dan mengisyaratkan bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan, ia juga melihat kearah Chorong yang berdiri didepan Myungsoo disisi kirinya. Kini, mereka harus menghentikkan langkah mereka karena pintu operasi sudah dekat dan tak ada yang boleh masuk kedalam kecuali para medis.

Cho Rong membawa sang nenek untuk duduk dibangku yang tersedia tak jauh dari pintu masuk ruang operasi. Sementara Myung Soo masih memegang tangan gadis itu, mencoba menyemangati Eun Ji. “Tentang yang kau katakan, apa itu penting?Jika penting, katakan saja sekarang.” ujar Myungsoo membujuk gadis itu.

 

“Nanti bukan kejutan lagi. Tunggulah sebentar – -saja.Jika kau penasaran, kau harus tetap disini bukan?Tolong, jaga nenekku.”

Eun Ji segera dibawa masuk kedalam ruang operasi, dan genggaman tangan Myungsoo perlahan terlepas. Dalam hitungan detik, pintu ruang operasi tertutup rapat. Sekarang, hanya menunggu takdir Tuhan tentang bagaimana hidup Eun Ji selanjutnya, lelaki itu tetap mengharapkan yang terbaik untuk Eun Ji.

 

Seketika kaki lelaki itu tak mampu menopang tubuhnya yang membeku tepat sesaat bunyi derit pintu itu tak lagi terdengar, ia tersimpuh dilantai rumah sakit yang dingin yang menatapnya bisu. Hening terasa di lorong rumah sakit. Barulah, likuid yang tertahan sejak tadi terjatuh juga.Sementara dari kejauhan, Cho Rong hanya memerhatikan Myungsoo penuh tanya.

 

×THE SECOND TIME×

 

Chorong melihat jarum jam yang melingkar manis dipergelangan tangan kirinya menuju pada angka 12 tepat KST. Artinya sudah tiga jam Eun Ji berada di ruang operasi dan belum tanda -tanda apapun bahwa operasi gadis itu akan segera selesai. Myung soo masih terjaga dan berdiri melihat kearah pintu ruang operasi sementara Chorong menemani nenek Eun Ji yang terlelap dibangku.Taklama, paman Eun Ji datang. “Maaf merepotkanmu, Chorong. Bagaimana apa sudah ada kabar dari dokter tentang Eun Ji?” tanya sang paman yang melihat kearah pintu operasi yang terutup rapat, dan tak tahu seperti apa kehidupan dibalik pintu dengan kaca tak transparan itu.

“Belum ada, paman. Apa anda ingin istirahat?” ujar Chorong. Paman menggeleng, “Tidak, hanya saja aku ingin mengistirahatkan neneknya Eun Ji di apartemen temanku yang dekat dari sini, paman tidak tega melihat beliau tidur disini. Jadi, selama aku tidak ada kau bisa ‘kan tunggu disini barangkali, dokter akan memberi kabar baru tentang kondisi keponakkanku.”

Chorong tersenyum lalu mengangguk mengerti. “Nde, aku mengerti. Aku akan mengabari anda nanti. Hati-hati dijalan.”

 

Sepeninggal paman dan nenek Eun Ji, Chorong kembali duduk dan melihat Myungsoo yang kini bersandar terduduk dengan kepala yang menunduk. Chorongpun berjalan dan membungkukkan sedikit tubuhnya agar sejajar dengan Myungsoo.

‘Aku baru lihat wajahnya Myungsoo.Jadi, selama ini . . Kim Myungsoo itu nyata?’ Chorong bergumam dalam hati.

“Cheogiyeo. .’

Myung soo terperanjat kaget begitu melihat Chorong yang kini sedang menyengir canggung didepannya. “Kau bisa istirahat dibangku itu, cukup panjang untuk tubuhmu, tuan. Oh ya, aku Chorong teman Eun Ji.”

“Aah, aku Sung- -um- Myung Soo maksudku.Kim Myungsoo. Omong-omong dimana nenek dan pamannya Eun Ji?”

Chorong menangguk mengerti, ternyata dugaannya benar. Dan, Eun Ji tidak berbohong tentang Myungsoo. Tapi, bagaimana ia bisa mengalami hal-hal ganjil sebelumnya tentang lelaki ini?

Oke. Lupakan. Kini, ia harus menjelaskan pada Myungsoo yang nyata tentang hal yang terjadi. “Paman Eun Ji mengantar neneknya untuk pulang, karena beliau terlihat lelah sekali menunggu disini. Tapi, pamannya pasti akan kembali nanti.”

Myungsoo tak bertanya lagi, ia hanya mengangguk seakan mengerti keadaan. “Belum ada kabar apapun dari dokter sejak tadi?” tanya Myungsoo. “Belum. Aku tak beranjak kemanapun sejak tadi. Semoga Eun Ji baik-baik saja didalam.” ujar Chorong merapatkan kedua tangannya lalu memejamkan mata. Tak butuh waktu lama, sang paman kembali kesana. Dan, disaat yang sama pintu ruang Operasi terbuka dan ada seorang perawat yang keluar dari sana dengan baju paramedisnya.

“Siapa wali nona Jung Eun Ji?”

“Saya walinya, bagaimana operasinya?”

“Apa Eun Ji baik-baik saja didalam?”

“Untuk sekarang kondisinya menurun drastis. Kami paramedis berharap agar kalian memberikannya semangat dengan begitu keadaan pasien akan membaik, untuk sementara hanya itu yang dapat kami sampaikan.” ujar sang perawat lalu kembali kedalam ruang operasi.

Lorong kembali hening, Paman Eun Ji tak hentinya mondar-mandir, air mukanya tampak gelisah gesture badannya tampak tegang sesekali matanya melirik pada pintu ruang operasi dan jam operasi Eun Ji yang sudah masuk jam ke 5.

Fajar mulai menyingsing, meski pagi ini matahari belum sama sekali memerlihatkan rona kuning telurnya dilangit Seoul yang dingin. Justru, salju telah turun sejak dini hari, gadis itu bersyukur bahwa ia tak perlu pulang tadi malam.  Chorong sempat berhenti sejenak di area kantin setelah akhirnya ke toilet untuk sekedar membersihkan mulut dan mencuci mukanya, dan melihat langit luar dari kaca tembus pandang yang menebus bagaimana keadaan luar.

“Chorong -ssi?- -kau sudah sarapan?” tanya seorang lelaki.

“Belum. Bagaimana dengan anda samcheon?” tanya Chorong.

“Ya sudah, ayo paman akan mentraktirmu. Setelah ini aku akan menjemput neneknya Eun Ji dan kembali kesini lagi. Apa kau ingin pulang juga?” tanya paman Eun Ji membuat Chorong hanya tersenyum kecil.

“Itu bisa aku urus nanti Eun Ji samcheon, tapi dimana Myungsoo?-‘ tanya Chorong mencari keberadaan Myungsoo.

“Ah, dia katanya harus kembali sebentar ada sesuatu yang ia harus ambil untuk Eun Ji. Ayo, kita sarapan. .”

Mendengar penjelasan Paman Eun Ji, Chorong hanya mengangguk mengerti. Namun, dalam hati ia bergumam.

‘Ah, paman juga melihat Myungsoo. Berarti, dia memang nyata.’

 

×× THE SECOND TIME××

 

“Tolong kabari aku jika operasi Eun Ji sudah usai ya, Chorong. Aku mengandalkanmu.” ujar paman Eun Ji yang segera beranjak tepat setelah usai sarapan di caferia Rumah Sakit Seoul Han.

“Baiklah, paman kau bisa menyerahkannya padaku. Hati-hati dijalan.Dan, terimakasih sudah mentraktirku.” ujar Chorong membungkukkan badannya.

Baru saja Chorong ingin beranjak dari cafetaria Rumah Sakit. Ada orang-orang yang berkerumun didepan televisi. Karena rasa penasarannya, Chorong memutuskan untuk melihat apa yang terjadi. Beberapa orang berbisik seperti ‘Dijalan itu sudah sering sekali kejadian. .’

‘Wah, sepertinya  ia lelaki yang tampan. sayang sekali. .’

‘bagaimana kekasihnya kalau tau kejadian ini?’

 

“Maaf, apa yang terjadi kalau boleh tahu?” tanya Chorong pada seorang yang berada didekatnya. “Terjadi kecelakaan di persimpangan Sangam-do. Seorang lelaki menjadi korban tabrak lari. Kasian sekali. .”

Jawaban yang ia dapatkan tak cukup membuat Chorong puas hati, ia meringsek kebagian depan dan matanya membelalak seketika. Wajahnya berlumuran darah hanya saja diblur, Chorong kemudian melihat mantel yang digunakan korban tabrak lari tadi. “Myung –soo?!”

Chorong segera berlari menuju ruang operasi disaat yang sama seorang dokter keluar. “Bagaimana keadaan Eun Ji temanku, dok?”

“Operasinya berhasil, tanda vitalnya kembali normal. Beritahu wali nona Jung Eun Ji untuk segera menemuiku nanti. Untuk saat ini, pasien sedang dipindahkan ke ruang ICU.”

“Terimakasih dokter. Ya Tuhan, syukurlah.- -‘

Ia baru ingin melakukan panggilan ke Paman Eun Ji namun malah beliau sudah menelponnya duluan. “Halo, Chorong- -‘

“Paman, Eun Ji sudah berada di ruang ICU operasinya berhasil. Keadaannya membaik, paman. Ini kabar baik, aku akan mengabari Myungsoo juga sekarang. .’

“Chorong -ah? Lelaki itu mengalami kecelakaan. Kabarnya tabrak lari. Aku sedang menunggu klarifikasi dari dokter, nanti setelah itu aku akan kesana. Sebelum itu, bisa aku meminta tolong padamu?- -‘

 

“Nde? jadi . . berita itu, apa yang aku lihat di berita pagi ini benar paman?”

 

“Ya, itu temannya Eun Ji. Myungsoo. Tapi, tolong rahasiakan ini dari Eun Ji sampai dia pulih kembali. Ini, permintaan dari neneknya.”

 

“b-baiklah paman, aku akan mengurus itu nanti. Tapi, bagaimana kondisinya Myungsoo sekarang?”

 

“dia . . . tak tertolong.”

Chorong membeku seketika, sambungan telpon digantung begitu saja yang tak lama dimatikan. Ia bingung apa yang harus ia katakan pada Eun Ji nanti. Dan juga, jelas beberapa jam lalu ia masih melihat lelaki itu meminum segelas cofee instan di cafetaria, dan beberapa jam lalu juga ia baru melihat bagaimana wujud nyata Myungsoo setelah dibuat bingung sekian lama karena ia sama sekali tak melihat bagaimana sosok Myungsoo ketika Eun Ji mengenalkan dirinya pada Chorong.

 

Bahkan, ia sempat mengira ada yang tak beres dengan Eun Ji atau Chorong kira Eun Ji adalah anak indigo karena ia berbicara dengan hal yang tak Chorong lihat. Namun, tiba-tiba saja sosok lelaki itu muncul dalam wujud nyata dan sekarang ia dapat kabar bahwa lelaki itu meninggal kecelakaan ditempat kejadian.

 

Chorong merasa bahwa ia sudah tak waras. Likuidnya jatuh tak henti, ia bingung dengan perasaanya ia bahagia karena Eun Ji sahabatnya selamat. Tapi, disisi lain ia sedih karena orang yang baru ia lihat secara nyata kini, sudah tidak ada. Bagaimana perasaan Eun Ji?

 

×× THE SECOND TIME××

“dokter! tanda vitalnya menurun drastis!” teriak seorang perawat dari dalam ruang ICU.

Nenek Eun Ji sudah menangis melihat cucunya didalam sana.

“Bertahanlah, cucuku Eun Ji. .” ujar sang nenek seraya terisak. Chorong memeluk nenek Eun Ji dan menepuk pelan bahu wanita tua itu. “Dia pasti kuat untukmu, halmeoni.”

 

**

Eun Ji mengelap peluhnya yang mengalir deras, nafasnya terengah. Ia melihat seorang lelaki berdiri dibawah pohon tak jauh dari stadion. Lelaki itu melambaikan tangannya pada Eun Ji dan tersenyum cerah, sementara Eun Ji hanya mendengus tetapi tetap menghampiri lelaki itu.

 

“Kenapa kau dan aku tak menontonnya di rumah saja sih?di tv pertandingannya juga disiarkan. .” ketus Eun Ji.

“Yah, aku ingin sekali menontonnya bersamamu. Tapi – -‘

“Tapi – -‘ Eun Ji menaikkan alisnya sebelah.Myungsoo mengeluarkan sebuah tiket dari kantong celananya.

“Tiketnya hanya satu, untukmu.” ujar Myungsoo lalu memberikan tiket itu pada Eun Ji. Gadis itu hanya menatap Myungsoo bingung.

“bagaimana denganmu?aku menontonnya sendirian saja begitu?”

“Tontonkanlah untukku.Hanya kali ini. Aku akan menyaksikannya dari rumah, kau hanya perlu menyaksikannya pertandingannya sampai selesai dan beritahu pemenangnya.” bujuk Myungsoo, Eun Ji tampak berpikir sejenak.  “hmm–baiklah.”

 

**

Pertandingan babak pertama usai, Eun Ji semakin mendesis dan bergumul  sendiri. Banyak hal yang membuatnya kesal. Pertama, muka Myungsoo yang sangat minta dicubit karena lelaki itu begitu menggemaskan ketika memohon padanya, jadi tak sampai hati menolak permintaan lelaki itu. Kedua, ketika ia masuk ternyata pemainnya bukan yang Eun Ji idolakan tapi orang lain bikin Eun Ji gemas seketika. Ketiga, ia sudah lelah sekali soal idola yang Myungsoo gemari kalah dibabak pertama. Keempat, ia berada diantara orang-orang yang berpasangan menonton pertandingan ini.

 

Jadilah, ia menelpon Myungsoo untuk berkeluh kesah pada lelaki itu. Setelah mendengar nada sambung cukup lama, panggilan itu dijawab oleh pemilik nomor diseberang sana.

“Halo?”

“Aku bosan. Aku ingin pulang, atau sekarang aku akan pulang, Myung. Kau bohong soal pemainnya. Mereka bukan idolaku. Aku bahkan tidak tahu tim apa yang bermain saat ini, kau tahu?!” ujar Eun Ji menggerutu saja, membuat Myungsoo tertawa renyah diseberang sana. Lelaki itu dapat membayangkan wajah gadis itu jika sedang marah.

“Baiklah, tapi — bukankah terlalu tanggung jika kau pulang sekarang. Permainan sudah berjalan setengah, kau mau menyia-nyiakan tiket yang aku dapatkan susah-susah?Kau memang tidak penasaran juga soal siapa yang menang pertandingan ini?”

Eun Ji memejamkan matanya malas. Ia menghela nafasnya berat. “Baiklah.Aku akan menontonnya hingga selesai.”

 

×× THE SECOND TIME××

“Tanda vitalnya sudah normal, dokter.”

Paramedis menghela nafas lega. “Pantau terus selama 24 jam ini. Kita tunggu sampai esok, jika keadaannya normal Eun Ji bisa dilihat oleh keluarganya.”

“Baik, dokter.”

 

Chorong side’s

Eun Ji tahu yang sebenarnya tentang Myungsoo setelah ia selesai menjalani rangkaian pengobatan pasca-operasi dan pemulihan yang membutuhkan waktu sekitar sebulan sampai dua bulan. Saat operasi ia usai hari itu, ia tak banyak bertanya tentang Myungsoo, namun Eun Ji seakan tahu semua apa yang dipikirkan antara aku, nenek dan pamannya.

 

Saat itu, ia bertanya padaku seperti ini. Aku melupakan fakta bahwa gadis itu cerdik. “Myungsoo tidak pernah datang. Dia tidak menepati janjinya padaku, Chorong.” ujarnya pada saat itu. Kami sedang berada di taman bermain sehabis dari mengambil jadwal baru untuk tahun ajaran baru di tahun pertama universitas kami. Aku terduduk di perosotan sementara Eun Ji dudum di ayunan dan memakan es krim.

“Dia berjanji apa padamu memangnya?–” tanyaku.

“Tidak akan meninggalkanku setelah aku usai operasi. Dan faktanya, dia tak pernah kembali. Dia pembohong besar.Apa aku harus membencinya lagi?”

Bodohnya, aku terbawa suasana saat itu. “Jangan membencinya. Meski dia tak pernah kembali untuk selamanya. Hari itu, pasti dia akan kembali untukmu. Dia berniat sepenuh hati untuk kembali untukmu, Jung Eun Ji.” ujarku yang segera membekap mulutku sendiri setelah keceplosan berkata yang sebenarnya pada Eun Ji.

 

Eun Ji menatapku dengan tatapan nanar, ia tertawa canggung meski matanya berkabut melihatku. Likuid itu lolos tanpa peringatan. Es krim yang ia pegang jatuh begitu saja dari genggamannya. “Tak pernah kembali, untuk selamanya katamu.- -‘

 

“Eun Ji -ah, maksudku –‘ belum selesai bicara, Eun Ji menyela seraya mengusap pipinya yang basah. “Jadi, ini yang kalian sembunyikan selama aku di rumah sakit. Bagaimana dengan kejutan yang akan ku berikan padanya?Dia – -harus menepati janji yang ia buat untukku jika tidak mau disebut pembohong besar. Bukan begitu, Chorong -ah?”

 

Aku beranjak dari tempatku dan segera memeluk Eun Ji erat. “Maafkan aku karena berbohong padamu tentang Myungsoo.Kau bisa pukul aku setelah ini.”

 

“Kata Myungsoo bahagia sudah menantiku setelah operasi ini. Tapi, Tuhan malah memberikan duka dan rasa sakit lagi untukku, Chorong -ah. .” ujar Eun Ji seraya terisak.

“Masih ada aku, nenek dan paman. Ingat saja itu, Eun Ji. .”

 

Setelah kejadian itu, Eun Ji sempat murung dan seperti orang putus asa ia selalu pergi ke makam Myungsoo setiap kami usai kelas. Dan, kini telah tiba pengujung bulan Desember. Kurang dari 10 menit lagi akan ada perayaan malam tahun baru 2013. Aku melihat Eun Ji masih menikmati perapian dengan cokelat panas yang ada di cangkir kesayangannya.Diam-diam gadis itu masih menyimpan sebentuk duka yang ia tutupi dengan keceriaan didepan nenek dan pamannya.  “Eun Ji -ah, nenek dan paman memintamu untuk keluar.”

 

Eun Ji hanya menggeleng dan membuka jendela kamarnya yang langsung menembus langit luar dengan pemandangan jalan yang bersalju. “Tidak, sepertinya menyaksikan kembang api akan lebih menarik. Kemarilah, kita lihat kebenaranku yang aku katakan padamu, Chorong.”

 

“Omong-omong, kalau aku boleh tau apa permintaanmu untuk tahun depan?” tanyaku penasaran. Eun Ji menjadi gadis yang lebih banyak diam sekarang, sejak hari di taman itu. Apalagi jika bersamaku, padahal aku sahabatnya sendiri.

Eun Ji menggumam sebentar, seraya mengedarkan pandangnya kearah luar, lalu ia menjawab

“Aku harap, kita semua selalu sehat. Nenek, paman dan kau selalu ada didekatku walaupun kita punya kesibukkan masing-masing. Dan, dimanapun Kim Myung soo, semoga ia baik-baik saja, serta selalu diberi kesehatan dan tidak melupakanku. Bagaimana kau Chorong?”

Keinginan terakhir Eun Ji membuatku terdiam sejenak lalu berujar “Baiklah jika itu yang membuatmu bahagia. Aku juga sama sepertimu hanya saja ada sedikit perbedaannya.”

 

“Perbedaan apa?” tanya Eun Ji dengan wajah berubah jadi penuh selidik. Aku hanya tersenyum penuh arti dan memegang bibirku sendiri dengan telunjukku.

“Rahasia!”

 

Pesta kembang api dimulai, dan membuat malam sunyi itu menjadi ramai seketika ditambah tawa kedua sahabat itu.

 

[To Be Continued. . .]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Give Your Comment ~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s