[Bagian 3] Let Me In: Interview

Title | Let Me In  [Sequel Hold Me Tight]

 

Author | RahayK

Lead Cast |Byun Baekhyun x Baekhyun / Dellion Foster

                         Yoon So hee  x Baek Eun Ha

                          Irene Bae  x   Park Ae Ri

                        Song Yun Hyeong  x  Yun Hyeong

                        Kim Jong In  x   Kai Kim

Support Cast | Kim Dahyun  x   Dahyun

                                Wang Jackson  x  Jackson

Length |Chapter -Sequel

Genre | AU x Dark x Drama x Friendship x Sad x Bromance x Marriage -Life  x Revenge

Disclaimer |

Poster | RahayK Poster

 

Summary  this  Chapter | Ahjussi –ayo kita lakukan beberapa wawancara kecil

[Chapter 3]

Baekhyun mendapati ponselnya bergetar begitu ia sampai dijembatan sungai Han. Seperti dugaannya, itu dari Da Hyun. Baekhyun belum berbicara, gadis itu sudah menyambar duluan.

“Oppa —apa kau pulang ke Seoul?”

“Benar. Kau tahu darimana?Jackson?” Baekhyun balik bertanya pada Da Hyun.

“Ani. Banyak mata-mataku disana.”

Gurauan Da Hyun membuat Baekhyun merasa terhibur dikala sepi yang menyerangnya sekarang ini.

“Benarkah?Apa kau intel?” goda Baekhyun disela kekehnya.

“Pesonaku lebih dari intel, Oppa.” Da Hyun ikut tertawa. Untuk sekian detik mereka hanya saling tertawa tanpa ada yang melanjutkan obrolan, yang masuk ketelinga Baekhyun adalah suara Jackson yang berebut ponsel dengan Dahyun karena mungkin ia ingin ikut bicara, hingga sebuah suara yang lebih nyata masuk kedalam telinganya yang tanpa tertempel telfon genggam.

 

“Ahjussi!”

 

Baekhyun menoleh seketika dan entah kenapa ia hanya tersenyum melihat sosok yang memanggil dirinya sedang berdiri tak jauh dari tempatnya sekarang. Wajahnya tampak segar dan lebih bersemangat daripada ia terakhir kali melihatnya. Bagi Baekhyun orang itu adalah sosok radikal dari Dahyun. Ia tampak seperti adik perempuan bagi Baekhyun.

 

Dan, Baekhyun cukup takjub melihat perubahannya yang bisa dikatakan sangat -sangat berbeda, bahkan lelaki itu juga harus berpikir ulang apa gadis yang ia tolong dihari salju pertama turun itu adalah benar-benar dia atau bukan, sampai -sampai perbincangan dengan Dahyun ia tak hiraukan lagi dan menggantung telpon genggamnya, ditangan kirinya tanpa memutuskan sambungannya lebih dulu.

 

“—bagaimana kabarmu?” tanya gadis itu lagi.

 

‘Oppa –kau bicara dengan siapa?’ Dahyun masih berbicara. Namun, Jackson segera mematikan sambungannya dan berkata. “Itu urusan dia mau berbincang dengan siapa —cepat kita harus belajar untuk ujian.”

 

[Let]  [Me]  [In]

 

Baekhyun memasukkan ponselnya kemantel yang ia kenakan, ia benar-benar lupa dengan panggilan yang baru saja ia lakukan dengan Dahyun.

“Baik —kau sendiri —aku bahkan tidak yakin apakah pelajar yang mau bunuh diri itu dirimu atau orang lain? Kau terlihat lebih hidup hari ini.” ujar Baekhyun mengulas senyuman.

Gadis itu hanya mengangguk dan berjalan kearah Baekhyun. “Walaupun cuacanya dingin aku harus hidup, Ahjussi.

Baekhyun hanya mengangguk dan memasukkan tangannya kedalam saku mantelnya.

“Benar.Cuacanya semakin dingin, di Seoul.”

Nafas mereka sama-sama berasap, kedua hidung mereka memerah namun yang mempunyai semburat merah dikedua tulang pipinya adalah Eun Ha.

 

“Apa kau baru kembali dari suatu tempat?” tanya Eun Ha pada Baekhyun,keputusannya tepat untuk tak langsung pulang ke rumah hari ini. Takdir Tuhan memang menakjubkan walau kadang agak rumit.

 

Baekhyun mengusap tengkuknya, ia tak tahu bahwa Seoul akan jauh lebih dingin daripada Busan. Bahkan, ia merasa baiknya ia berada diatas kapal saja sekarang.

 

Hng –yah, masalah pekerjaan. Harus melakukannya diluar Seoul. Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Baekhyun dikala ia kembali melanjutkan langkahnya dan diikuti oleh Eun Ha, namun ia justru merasa tak terganggu dengan hadirnya gadis itu. Walaupun, ia mengira Eun Ha adalah gadis yang lembut pada awalnya, tetapi, yang ia temukan sekarang adalah gadis yang penuh semangat.

 

Gadis itu merespon pertanyaan Baekhyun dengan anggukkan yang antusias.  “Umm, baik –Ahjussi. Oh ya —sebagai ucapan terimakasih untukmu –”

 

“Iya?” Baekhyun menaikkan kedua alisnya, menunggu apa yang selanjutnya gadis itu katakan.

 

“Aku akan membelikanmu minum hari ini. Setuju?” tawar gadis itu dengan yakin yang membuat Baekhyun hanya terkekeh lalu bertanya dengan nada bercanda.

 

“Memangnya, pelajar sepertimu mempunyai uang?”

Pertanyaan Baekhyun membuat ia merasa tersedak dan terhina secara halus, walau ia tahu Baekhyun hanya bermaksud untuk segera bergurau.

Astaga!Ahjussi, beginipun aku kerja part-time ditiga tempat.Ayolah, nanti keburu larut.” ia berkata dengan mata yang melotot, bibirnya tiba-tiba saja mengerucut dan membuat lelaki itu hanya mentautkan tawanya yang lebar.

 

Baekhyun hanya tertawa dan mengikuti kemana langkah gadis itu pergi.Tapi, tak lama Baekhyun menghentikkan langkahnya dan membuat gadis itu menoleh. “Boleh aku yang menentukan tempatnya?” tanya Baekhyun dengan alis yang naik.

 

Dan, hingga saat itu tak ada yang menyadari jika mereka sudah berpegangan tangan.

 

“Baiklah.” ujar gadis itu tersenyum lebar, bukan karena Baekhyun berkata bahwa dia yang akan menentukan tempat, tapi ia sadar –jika tangannya sedang digenggam erat oleh Baekhyun tanpa lelaki itu sadar.

 

Dan, seketika gadis itu merasakan seperti ada sekumpulan kupu-kupu yang membuncah berterbangan diperutnya sekarang ini. Malam yang dingin terasa begitu hangat ketika seseorang seperti Baekhyun menggenggam tangannya.

 

[Let] [Me] [In]

 

Baekhyun mengambil beberapa botol soju yang ada dilemari pendingin, membuat Eun Ha hanya mengerutkan kening heran mengapa ia tak mengajaknya ke kedai yang ada dipinggir jalan saja untuk menikmati soju.

 

Ah, ia ingat –dirinya tentu masih dibawah umur.

 

‘Bisa-bisa Ahjussi masuk kantor polisi nanti.’ ia bergumam.

 

Akhirnya, setelah keasikkan mengamati Baekhyun dan orangnya telah berjalan kekasir gadis itu segera meraih sekaleng cola dengan cepat dan mengekori Ahjussi.

 

Baekhyun mengeluarkan dompetnya dan mengambil kartu kredit dari sana, sementara Eun Ha juga buru-buru mengeluarkan uang dari dompetnya.

 

“Aku yang akan membayarnya Ahjussi. Aku ‘kan sudah janji padamu.”

 

“Yah, tentu saja.”

 

Baekhyun mengiyakan saja tanpa perlawanan lagi, membuat wajah Eun Ha terlihat panik seketika. Lalu, ia menggeser 4 botol soju lainnya dan menggeser cola yang ada dimeja kasir juga.

 

“Hanya satu botol.” kata Baekhyun.

 

Huh?” Eun Ha melongo dan tak mengerti.

 

“Bayarkan aku satu botol saja. Sisanya aku akan bayar sendiri. Kau bilang akan mentraktirku.” Baekhyun menagih janji Eun Ha yang ia katakan beberapa saat lalu.

 

Aah, baiklah.Aku mengerti.” ujar Eun Ha pelan, ia salah tingkah dengan perlakuan Baekhyun. Dan, setelah membayar, ia lebih memilih keluar dan duduk diluar minimarket.

 

“Tolong 4 botolnya bayar dengan kartu ini.”

 

[Let]   [Me]    [In]

 

Hening terjadi ketika mereka masing-masing menikmati minuman mereka.

Sampai akhirnya  Eun Ha bersuara setelah ia merasa lebih baik seusai dipermalukan oleh seorang Ahjussi ini.

Ahjussi –ayo kita lakukan beberapa wawancara kecil.” ajak gadis itu dengan mengetuk kecil meja yang menimbulkan suara bising didetik berikutnya.

 

“Wawancara apa?” Baekhyun bertanya lalu menenggak sojunya, sekarang ini  yang ia perlukan beberapa penguluran waktu agar ia tak segera pulang ke apartement.

 

Banyak alasannya, hingga ia rasanya muak untuk tinggal di rumah berlama-lama, walau ia tahu betul diluar benar-benar dingin.

 

“Tak sulit, cukup menjawab apa yang aku tanyakan padamu. Sepakat?” tawar Eun Ha. Baekhyun hanya menghela nafasnya dan menaikkan bahunya.

 

“Baiklah.”

 

“Aku akan pura-pura baru datang, dan bertanya beberapa hal padamu.Anggap saja –kau melakoni sebagai ‘Hallyu Star’ seperti —EXO?”

Eun Ha terdiam beberapa saat, Ya Tuhan, apa yang sudah ia katakan barusan?Ia baru saja membocorkan sebuah rahasia yang semua orang tak tahu. Sederhana, Eun Ha senang menulis sesuatu seperti novel dan menaruhnya disebuah blog namun ia tidak lagi melakukannya lagi sejak ia masuk SMA.

 

“Huh?” Baekhyun melongo, sepertinya kesadarannya agak memudar sedikit.

 

Aniyeo, EXO itu adalah sebuah boyband yang ada didalam fanfiction -ku.” ia segera menggeleng.

Baekhyun hanya tertawa meledek lalu ia bertanya.

“Kau suka menulis hal-hal receh seperti itu?”

 

Benar, pikir Eun Ha. Baekhyun adalah pria dewasa, bagaimana bisa ia memikirkan bagaimana asiknya menulis Fanfiksi itu.

“Tidak lagi. Itu sewaktu aku Menengah Pertama. Cha. Aku akan memulainya.” ujar Eun Ha.

 

Gadis itu kemudian beranjak dari bangkunya, dan mundur beberapa langkah lalu menghampiri Baekhyun, dan memberi salam hormat.

 

Anyeonghasimnikka.Perkenalkan aku adalah reporter D Magazine. Baek Eun Ha -imnida. Bolehkah aku mewawancaramu sebentar, Tuan?”

 

Baekhyun tak menjawab dan hanya mempersilahkan Eun ha untuk duduk kembali ditempatnya semula. Lagipula, Eun Ha adalah gadis penuh energi yang ia temui pertama kali. Berbeda dengan Dahyun yang bersifat keras dan frontal. Hanya saja, selain penuh energi mungkin gadis ini juga sedikit liar dilihat dari gesture tubuhnya yang tampak baik-baik saja dengan malam yang dingin seperti sekarang.

 

Umm ––Bolehkah aku tahu siapa namamu, Ahjussi?”

Baekhyun mengangguk lalu mengerutkan semua area wajahnya, karena malam semakin dingin.

“Byun Baek Hyun -imnida.” ia menundukkan kepala dan mengikuti permainan Eun Ha.

“Lalu, mengapa anda membeli soju diminimarket dan bukannya pergi ke kedai?” tanya Eun Ha lagi.

“Sudah lama aku tak minum. Tapi, karena kau anak dibawah umur. Aku tak bisa mengajakmu kesana.” ujar Baekhyun lalu menghabiskan botol pertamanya.  “Mengapa kau minum cola dimalam yang dingin begini?” tanya Baekhyun.

“Entahlah. Aku baik-baik saja dengan minuman dingin walau udara seperti ini.”  Eun Ha berkata jujur. Mungkin, karena ia telah terbiasa berada diluar berlama-lama.

Baekhyun menepuk tangannya dan berujar. “Sudah kuduga. Kau sedikit liar –Eun Ha haksaeng.

Eun Ha hanya mengernyit. “Pertanyaan selanjutnya –mengapa —ahjussi mempunyai  pikiran yang sama denganku pada hari itu? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Eun Ha lagi, dan seketika Baekhyun terdiam sebentar dan kembali menenggak minumnya lagi, ia terlihat kesal.

 

“Lalu, kau seharusnya sekolah dengan baik dan belajar lagi dengan giat. Jika kau lulus lebih cepat, kau akan bisa jadi reporter sungguhan.” Baekhyun mengalihkan topik dan membuat Eun Ha merasa bersalah dan menjawab petuah Baekhyun dengan cengiran kecil.

 

“Baiklah.”

 

Baekhyun tersenyum juga, ia menyipitkan matanya, mencoba melihat baju yang ia kenakan dibalik mantelnya yang sedikit terbuka. Ia lalu mengajukan pertanyaan.

“Kau –sekolah di Moonjin high -school?”

 

Eun Ha terkejut lalu ia balik bertanya. Takdir macam apa yang Tuhan berikan padanya sekarang? Apa ia benar-benar terhubung dengan Ahjussi yang ada didepannya ini. Aah, tidak –mungkin ini hanya kebetulan, pikir Eun Ha.

 

“Nde, Apa –Ahjussi alumni disana?”

 

Aah, tidak aku sekolah diseberangnya. Huiyong high-school. Aku mengerti sekarang.” Baekhyun berkata dengan menopang dagu, wajahnya makin memerah saja karena alkohol dan juga udara yang dingin.

Begitu Eun Ha mendengar jawaban Baekhyun terselip rasa kecewa entah apa.

 

“Apanya?” Eun Ha menaikkan alisnya tak mengerti.

 

“Mengapa kau ingin mati kemarin.Segala sesuatunya menjadi sulit disana, itu memang sudah terjadi sejak lama.” terang Baekhyun santai.

 

“Benarkah?” tanya Eun Ha menjadi antusias.

Baekhyun membenarkan lalu sekarang ia menyenderkan badannya dan bersedekap.

“Benar. Sejak aku SMA juga telah banyak beredar berita begitu. Ternyata, benar.”

 

“Lalu, apa kau sudah lulus S2,Ahjussi?” Eun Ha kembali bertanya, benar sih, dia memanggil Baekhyun dengan sebutan Ahjussi, tapi sepertinya  wajahnya bisa dikatakan seperti mahasiswa yang naru lulus kuliah.

 

“Umurku 29 sekarang, lulus S2 pada umur 24.” jawabnya santai. Eun Ha yang meneguk colanya tersedak dan terbatuk begitu mendengar jawaban Baekhyun. Selain soal umur yang diluar dugaan, tapi soal masa pendidikan yang ia jalani terhitung singkat, orang normal biasanya baru lulus S1 umur segitu, tapi ia S2, dan Eun Ha dibuat takjub oleh Baekhyun.

 

Omo!apa Ahjussi sekolah akselerasi?” tanya Eun Ha dengan mata yang berbinar dan menatap Baekhyun takjub. Dan, Baekhyun hanya mengangguk lalu meminum lagi sojunya.

 

“Aku hanya menghabiskan masa SMA sekitar 1 tahun setengah. Lalu, kuliah dan lulus pada usia 24. Lalu, aku bekerja disebuah perusahaan farmasi.” ujar Baekhyun dan berhenti sampai situ, karena yang ia lihat adalah wajah Eun Ha yang sepertinya terlihat takjub, ia tak yakin betul karena kepalanya sudah pening dan pandangannya tak lagi tegas.

 

“Heol!Daebak! Kau berarti peneliti yang hebat, Ahjussi.” puji Eun Ha disertai tepuk tangan yang meriah, seakan ia baru saja menemukan sebuah temuan hebat yang dapat ia paparkan keorang lain.

 

Baekhyun tersenyum masam, dan menggeleng pelan. Ia menatap Eun Ha dalam, membuat gadis itu merasakan ada duka dalam yang ia rasakan.

 

“Ani. Aku setalah 3 tahun, terjadi sesuatu dan aku dipecat secara tidak hormat, dan dimasukkan black-list semua perusahaan farmasi Korea.” ujar Baekhyun lagi.

 

“Jangan bilang kau difitnah, Ahjussi?” tebak Eun Ha yang membuat Baekhyun hanya memiringkan bibirnya dan menaikkan bahunya.

 

“Itu sudah terjadi.” katanya pasrah.

 

“Maafkan aku jika itu membuatmu tersinggung, Ahjussi.”

 

“Aniya. Lalu —apa kau ingin tahu apa alasanku mempunyai pikiran untuk mati pada hari itu?”

 

Pertanyaan Baekyun kini yang membuat Eun Ha termenung sejenak. Gadis itu hanya mengerutkan dahinya dan menggeleng tak tahu.

 

“Aku bercerai ketika putri kecilku baru saja meninggal. Ceritaku terlalu tragis ya?” Baekhyun mengangkat sebelah alisnya dan hanya memaparkan sebuah senyum samar. Diam-diam hatinya merasa sedikit sakit seperti luka yang tergores.

 

“…sudah terlalu larut. Aku akan memanggilkanmu taksi dan pulanglah segera.” ujar Baekhyun lalu beranjak dari kursinya. Ia menunggu taksi datang. Sementara, Eun Ha setelah sempat termangu dengan kalimat Baekhyun ia ikut berdiri dan berdiri disamping Baekhyun dan membawa kantong hitam berisi sisa dua botol soju.

 

“Tidak perlu Ahjussi. Seharusnya kau yang naik taksi, kau terlihat mabuk.”

 

Baekhyun tetap menyetop sebuah taksi dan tak menghiraukan apa yang gadis itu katakan. Ia lalu memandang Eun Ha dan memasukkan tangannya dimantel.Sungguh, ia bisa mati beku jika ia terus berada diluar.

 

“Aku ini pria dewasa dan kau hanya seorang gadis dibawah umur. Tidak baik berkeliaran malam-malam sendirian. Lagipula, rumahmu jalanan kerumahmu penuh dengan jalanan kecil dan tak ada lampu juga CCTV, ya ‘kan?”

 

“Bagaimana kau tahu?” tanya Eun Ha lagi.

 

“Insting?–‘ katanya tapi seperti bertanya pada Eun Ha yang makin membuat dia bingung, apa orang mabuk bisa membuat orang sadar menjadi bingung begini?

“Huh?”

 

“Cepatlah naik.Kau harus bangun pagi untuk ke Sekolah. Jaga kesehatan dan rajinlah belajar, setelah itu masuk universitas yang kau mau.” ujar Baekhyun lalu menepuk bahu gadis itu pelan, seperti untuk memberi semangat.

 

“Ahjussi –kau seperti akan pergi jauh saja.”

Mendengar apa yang Eun Ha katakan, Baekhyun hanya tersenyum kecil, semua gadis memang tingkat sensitifnya tinggi.

 

“Selesaikan pendidikanmu dengan baik. Pergilah, dan terimakasih atas traktirannya.” katanya menginterupsi Eun Ha untuk segera masuk kedalam taksi. Akhirnya Eun Ha menurut dan masuk kedalam taksi. Ia membuka jendela dan Baekhyun menyerahkan lagi soju yang Eun Ha berikan.

 

“Oh ya!bawa saja pulang sojunya.”

 

“Untuk apa?” tanya Eun Ha dengan dahi mengerut.

Kenapa, orang ini selalu saja membuat dirinya bingung dan mengerutkan dahi.

 

“Minumlah ketika kau cukup umur. Mungkin saja, kau akan berulang tahun —ini hadiah dariku.’

 

“Ahjussi, kau ini apa-apaan.”

 

“Tolong antarkan haksaeng ini sampai kedepan rumahnya ya, Ahjussi.”

 

“Jangan jalan dulu,  pak. —Ahjussi, berjanjilah satu hal padaku. Mari bertemu lagi lain waktu dan juga —jangan mencoba untuk mati, nde?”

 

“Yah, baiklah. Hati -hati.”

Taksipun berjalan, Baekhyun tak melambaikan tangannya meski ia melihat Eun Ha melongok dari dalam jendela dan melambaikan tangan padanya, ia merasa tak seharusnya ia melakukan itu. Karena, lambai tangan adalah tanda perpisahan bagi Baekhyun, dan lelaki itu hanya takut. Takut, bahwa  gadis  yang telah mengukuhkan janji padanya benar-benar mengucapkan selamat tinggal untuk selama -lamanya. Bagaimanapun, Janji adalah janji.

 

Tentu saja, harus ditepati bukan?

 

Baik Eun Ha dan Baekhyun harus tetap hidup. Karena Tuhan sudah menakdirkan mereka untuk memiliki kehidupan yang amat ——sangat ——-

Lama.

 

Dan, Baekhyun sudah berjanji untuk terus hidup. Begitu juga Eun Ha.

 

Bersambung. . . .

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

One thought on “[Bagian 3] Let Me In: Interview

Give Your Comment ~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s