Adorable Love ‘2’

Title || Adorable Love

Author || RahayK

Lead Cast || Park Chan Yeol x Ryu Nata x Park Na Hae x Han Dae Rin

Length || Chapter

Genre || AU x Romance x Psychology x Family

Rate FF || PG 15 -17

Disclaimer || SEMUA JALAN CERITA MILIK SAYA! UPDATE INI ADALAH SLOW UPDATE JADI SORRY KALO LAMA.. AND, TOLONG JANGAN DI REBLOG DAN JANGAN DIPLAGIAT KARENA NULIS ITU GAK SEMUDAH ITU

 

A/N || Mengandung Harsh Word’s dan Beberapa hal yang berbau dewasa.

||`Adorable Love`||

 

3 minggu sebelumnya..

Musim Panas Agustus, 7.40 pm setelah pemakaman.

 

Yeol pergi kesebuah resto didaerah Yeouido, setelah pemakaman Dae Rin usai. Ia tak mengerti, mengapa begitu banyak hal yang terlewati  ketika ia makan di resto ini bersama Dae Rin. Banyak hal, seperti rasa makanan samgyetang favorit Dae Rin, atau sumpit besi yang berbeda ukuran belum lagi meja yang selalu sama mereka tempati dan juga yang paling penting adalah ‘sign’ yang berisi tentang apapun keluh kesah kita pada sekeliling tembok resto membuat Yeol benar -benar terasa pertama kali ia makan ditempat ini, intinya ketika Dae Rin datang kesini bersamanya semuanya terlewati olehnya, mungkin tidak untuk Dae Rin.

Kebiasaan Dae Rin adalah membawa spidol permanen berwarna merah. Alasannya sedikit unik dan terdengar tidak masuk akal.

Namun, lamunan Yeol melebur begitu ia menyadari bahwa seorang Ahjumma dengan celemek berdiri dihadapannya, wajahnya tampak bertanya -tanya.

“Aigoo! –sudah lama kau tak datang kesini.”

Yeol hanya membungukkan badan, dan tersenyum kecil. Lantas, Ahjumma itu melongok kearah dimana Yeol biasa duduk. “Omo!Tempatmu yang biasa sudah diisi oleh orang –tapi, akan coba kutanya, apa mereka sudah selesai makan atau belum.” ujar Ahjumma, namun Yeol mencegahnya. “Tak apa, Ahjumma. Aku duduk ditempat lain saja. Sepertinya lebih baik.” ujar Yeol meyakinkan.

Akhirnya, dengan berat hati ia mempersilahkan Yeol duduk disebuah tempat kosong, yang berada bersebrangan dengan meja yang biasa ia tempati bersama Dae Rin.

“Seporsi Samgyetang?” tanya sang Ahjumma tanpa menyodorkan buku menu lagi pada Yeol, lelaki itu hanya mengangguk. Lantas, tangannya meraih sumpit besi yang Dae Rin bilang tingginya tak sama.

 

“Park Yeol -ssi? kau tahu dua sumpit ini memiliki tinggi yang berbeda, tapi yang aneh masih bisa berfungsi. —aku akan menuliskan didinding ini dengan huruf besar -besar, supaya Ahjumma melihatnya.”

Dae Rin memperlihatkan sumpitnya pada Yeol, membuat Yeol hanya mengernyit lantas merespon perkataan istrinya yang benar -benar unik. Tunggu, ini hanyalah soal sumpit. Kenapa sampai serepot itu? Yeol tahu bahwa perempuan adalah mahluk yang penuh kerepotan pada hal kecil sekalipun, tapi, jika repot pada ukuran sumpit apa wajar? kebanyakan orang pasti datang kesini hanya untuk makan, bukan untuk memerhatikan panjang pendeknya sumpit.

 

“Memangnya dalam 24 jam Ahjumma selalu mengecek apa yang pelanggan tinggalkan didinding mereka apa?Kebanyakan juga hal -hal tak penting. Lagipula –siapa yang memerhatikan apakah panjang sumpitnya sama atau tidak, aku rasa kau yang aneh disini, Dae Rin.”

Yeol menyipitkan netranya lantas, memukul kepala gadis itu pelan bahkan kelewat pelan dan tak terasa apapun dikepala Dae Rin, membuat wanita itu hanya terkekeh, tapi ia tetap pada pendiriannya, bahkan semakin keukeuh. Lantas, tangannya mengacak isi tas tangannya dan mengambil salah satu benda.

 

Sebuah spidol.

Pertanyaannya, kapan ia menyempatkan diri untuk mengambil spidol merah itu diruang kerjanya yang berantakkan bukan main.

 

“Kalau begitu, aku akan menggunakan ini —tara!–spidol merah.”

Ia berkata begitu antusias, sampai -sampai matanya mengerling begitu bahagia. Ia puas dengan hal -hal kecil seperti itu, kuncinya satu –yang penting Yeol mendengarkan dan memerhatikannya dengan seksama.

Lantas, Yeol bertanya karena Yeol tahu merah bukan warna favorit Dae Rin, ia lebih suka warna -warna pudar atau pastel. Ia kurang suka dengan warna primer. Katanya sih, banyak orang yang suka, ia tidak mau sama dengan orang lain.

 

“Kenapa harus merah?”

 

Dae Rin kemudian mengangkat kedua alisnya dan mengetuk dinding yang telah penuh coretan itu dengan spidolnya.

“Lihat, semua yang tertulis didinding menggunakan spidol hitam. Protesku terhadap sumpit beda ukuran tak akan terlihat jika aku menulis dengan warna yang sama dengan pelanggan lain. Jadi –seorang Han Dae Rin dengan akalnya yang cerdas menggunakan spidol merah supaya terlihat, aku hebat bukan–Park Yeol -ssi?”

 

Yeol sudah cukup lapar sekarang, daripada mempermasalahkan sumpit lebih baik ia segera makan dan membuat Dae Rin terdiam dengan soal pengucapan nama, Bagaimanapun kebiasaan Dae Rin tak berubah dalam menyebut nama suaminya yang disingkat -singkat. Sedangkan Yeol tidak suka itu, ibunya memberi nama bagus -bagus kenapa ia hanya menggunakan nama belakang dan tambahan Yeol tanpa ada ‘Chan’ .

 

“Mwo?Park Yeol -ssi?”

Dae Rin menyengir dan mengemut sumpitnya, lantas ia hanya menatap samgyetang  yang asapnya sudah mengepul sejak tadi. Hanya inilah satu -satunya cara agar Yeol bisa bersama dengan Dae Rin sedikit lebih lama.

Yeol  terlalu sibuk ketika bertugas, paling tidak, seperti dugaannya –ditengah acaranya yang indah ini seorang atasan akan menelponnya dan ia harus meninggalkan Dae Rin sendirian.

 

“Baiklah, Park Chan Yeol -ssi. Oh ya, samgyetang disini adalah rasa yang terbaik.”

 

“Baiklah, aku percaya. Makanlah yang banyak.”

 

Lamunannya hilang begitu aroma samgyetang masuk kedalam indera penciumannya. Ia mendengus pelan, lalu memilih sendok untuk menjadi alat makannya. Ia termangu begitu melihat sebuah tulisan yang menarik perhatiannya, bukan tentang apa yang ditulis tapi, karena tulisan itu menggunakan spidol merah.

 

“Ahjumma, boleh aku tanya sesuatu?” tanya Yeol, Ahjumma kemudian menghampiri Yeol dan duduk dihadapannya. Ia menunggu hal apa yang akan ditanyakan Yeol.  “Ng..apa Dae Rin pernah duduk disini?”

 

“Sepertinya jika tidak denganmu ia tidak pernah kesini. Paling tidak –ia akan memesan dulu padaku dan membawanya pulang, jadi –ia tak menunggu atau sekedar duduk -duduk saja disini.”

 

Mendengar penjelasan Ahjumma, Yeol terdiam sejenak. “Baiklah, Ahjumma. Silahkan berkerja lagi, maaf menganggu.” ujar Yeol menundukkan kepalanya, lagipula tak seharusnya ia berlaku seperti itu pada Ahjumma yang benar -benar sibuk.

Benar, resto ini selalu ramai. Pasti, tak hanya Dae Rin yang selalu datang kesini.

Netra Yeol kembali memperhatikan tulisan itu.

 

“Mengapa —kau meninggalkan aku sendirian?Seberapa besarpun kesalahanmu dan bertapa besarnya perbedaan antara kita –aku mohon kembalilah dan tetaplah disisiku….”

 

Kalimat itu belum terselesaikan, hanya menggantung sampai situ. Yeol termangu sejenak, jelas tulisan Dae Rin tak serapih itu. Ia akan lebih senang menggunakan frasa asing untuk menulis hal -hal puitis agar tak banyak orang yang mengerti apa yang Dae Rin tulis.

 

Tapi, mengapa kalimatnya membuat Yeol melunak seketika, likuid itu jatuh tanpa izinnya. Kalimat itu adalah cerminan dirinya saat ini. Ditinggal Dae Rin untuk selama -lamanya. Menyesali atas perbedaan pendapat yang sering ada diantara mereka berdua.

 

Ia sadar, tulisan itu masih baru -sangat baru. Karena warnanya yang masih segar dan terang. Lantas, tangan Yeol menulis sesuatu dibawah tulisan yang tak terselesaikan itu dengan spidol milik Dae Rin.

 

“Mungkin, Tuhan tak perduli –seberapa besar keinginanmu agar orang itu berada disisimu –ketika seseorang yang sudah hidup hanya dalam kenangan, mereka tak akan dapat kembali apapun yang terjadi. Waktu  membiarkan  mereka hanya hidup didalam kenangan.–”

 

Yeol kemudian menulis sesuatu lagi sebagai lanjutan kalimat yang menggantung itu.

 

“…percayalah, meski tak ada disisi kita, orang itu pasti tetap berada dihati kita. Sampai kapanpun.”

 

Seusai menulis itu, Yeol melanjutkan makannya. Ia sempat melirik kearah seberang dimana Dae Rin biasa duduk, tapi tak ada tulisan spidol merah disana.

Sama sekali.

 

Yeol bangkit dan membayar tagihan pada Tuan Kim, suami Ahjumma. Kemudian ia menghampiri Yeol.

“Aigoo, Yeol –aku baru ingat. Memang, ada seorang gadis yang sering duduk disana beberapa waktu terakhir ini. Sama seperti kau dan Dae Rin ia juga memesan tempat yang sama setiap kali datang. Dan, yang terakhir kali ia kesini hanya sebentar saja –keadaannya sedikit —yah, berantakkan..”

 

Yeol kembali melihat tulisan itu, lantas ia hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya mengerti.

“Kalau begitu terimakasih, Ahjumma. Aku permisi dulu.”

 

|“Adorable Love“|

 

2 bulan berlalu..

 

Waktu bergulir, musim panas berubah menjadi musim gugur, daun -daun meranggas menanggalkan rantingya. Secangkir kopi yang hanya menemani Yeol saat ini, sementara Na Hae bersama neneknya dirumah Yeol.

 

Ia kembali pada aktivitasnya, pekerjaannya jauh lebih berat daripada ia harus melakukan investigasi dilapangan. Jika begini, kemarin saat inspektur  Seo menyuruhnya untuk dilapangan ia akan menurut. Ia kira selepas dari  Badan Inteljen Negara dan ditempatkan didistrik cabang ia tidak akan sesibuk ini. Nyatanya, berbalik lurus.

 

Lagipula, seharusnya pekerjaan Yeol sedikit ringan karena ada Ibunya, nenek dari Yeol yang mengurus Na Hae di rumah jadi ia tak perlu kerepotan mengurusnya begitu ia tiba. Tapi, mengapa ia kini merasa terbebani?

 

Keheningan Yeol terganggu begitu seseorang dengan tergesa -gesa masuk kedalam kantornya.

“Cheogiyeo!Anda Ketua Investigasi kasus Ki Ha Myung ‘kan?”

Belum Yeol menjawab dua anak bua Yeol ikut menerobos masuk kedalam ruangan.Dan, hendak membawa gadis itu keluar.

“Agasshi, kasusnya sudah ditutup hari Minggu kemarin. Ayo keluar!” tegas salah satu petugas dengan mata segarisnya.

Yeol lalu bangkit dan menyuruh kedua orang itu untuk keluar dari ruangannya dan meninggalkan gadis itu ditempatnya. “Hyung Won dan Jun keluarlah.” pinta Yeol pada bawahannya itu.

 

Gadis itu segera duduk dihadapan Yeol. Matanya sembab, ia terus mengigit kukunya, bahu kecilnya gemetar. Netranya tak fokus lalu ia bersuara.

“Pasti terjadi sesuatu padanya –kau bilang kau yang bertanggung jawab atas kasus ini.”

 

“Ya, benar. Apa masalahnya? dengar, Agasshi–”

Gadis itu sudah lebih dulu memotong ucapannya.

“Aku tak mau penjelesanmu. Aku ingin Ki –ku kembali. Bagaimana bisa kau tak ikut dalam penyelidikkan kasus ini?!Bagaimana mayatnya tak ditemukan?Pasti ini bukan kecelakaan biasa. Apa kau tak bisa membuka kasus ini lagi?” tanyanya dengan nada memohon.

Yeol termangu, kasus ini terjadi dua bulan lalu, sebuah kecelakaan tunggal daerah pegunungan Jiri, harinya sama seperti hari Dae Rin pergi dari sisinya.

“Maafkan aku, agasshi. Pada saat itu istriku baru saja meninggal.”

Yeol menundukkan kepalanya sebagai tanda permintaan maaf. Gadis itu terdiam begitu mendengar penjelasan Yeol, lantas didetik berikutnya ia meledak, ia bahkan bersimpuh didepan Yeol.

 

“Aku mohon –tolong buka kembali kasus ini. Ini belum tenggat waktu untuk kasusnya ditutup. Setidaknya, bantu aku temukan mayatnya Ki –aku mohon pada anda, Tuan..”

Yeol belum menjawab dan hanya membantu gadis itu berdiri, namun tiba -tiba saja ia pingsan. Sekilas kejadian beberapa waktu lalu saat ia dirumah sakit, berputar ulang diotaknya.

 

“Kalian mengambilnya dan Ibu –kau yang menyuruh mereka ‘kan?”

 

“Agasshi, kau tak apa?” Yeol mengguncang tubuh gadis itu, namun tak ada respon.

 

Yeol  ingat  gadis  itu,  dia  adalah  orang  yang   sama.

Dalam  benaknya  ia  bertanya..

“Apa  yang  terjadi   padamu  sebenarnya?”

 

|“Adorable Love“|

 

Satu hari sebelum insiden Ki, Agustus

04.45 pm

Dua orang berdiri menghadap kearah laut, mereka cukup menikmati  angin yang berdesir dipenghujung musim panas ini. Tak ada yang tahu apa yang harus keduanya lakukan setelah ini. Mentari berada diufuk barat cakrawala, membuat salah satu dari mereka memecah keheningan sebelum mentari hilang dan malam datang.

Sebuah keputusan harus dibuat oleh seorang lainnya, apakah ia harus jujur atau tidak. Karena, ini mempengaruhi masa depan keduanya.

 

“Apa yang membuatmu gelisah sore ini, Nata?” tanya lelaki itu seraya melirik Nata dengan ekor matanya. Namun, gadis itu tak langsung menjawab dan hanya meneteskan air mata, melihat itu, si lelaki menyadarinya dan bertanya.

 

“Ki –berjanjilah padaku untuk tidak marah jika aku mengatakan yang sebenarnya padamu.” gadis itu berbicara tanpa berani memandang lawan bicaranya itu. Lelaki itu hanya menatap gadis bernama Nata itu penuh selidik, tangannya meraih kedua bahu kecil Nata dan menghadapkannya tepat kearah ia berdiri.

 

Ia tahu, ada sesuatu hal besar yang menjadi beban Nata yang gadis itu sembunyikan diawal.

Dan, ia mencoba menterka apakah yang diutarakan Nata adalah hal yang sama terpikirkan oleh Ki.

Bahwa  masalah  ini muncul  karena kesalahan mereka, atau  secara garis besar masalah ini muncul karena keegoisannya untuk memiliki Nata seutuhnya.

Okay.

Masalah memang  sudah mengawali  hubungan mereka, terutama adalah tentang strata sosial mereka  bak  minyak  dan  air. Ibu Nata tak pernah menyetujui hubungan Nata dengan Ki. Yang kedua adalah Ki pernah mempunyai catatan kriminal beberapa tahun silam  karena  membela  Nata –atau itulah titik awal Tuhan memainkan drama  roman  ini.

 

“Ki –aku sedang  mengandung anakmu..”

 

Nata kira, respon Ki adalah kemarahan yang sangat -sangat dahsyat, dimana ia akhirnya akan dicampakkan dan menyuruhnya agar mengugurkan janin itu. Tapi, Ki  memberikan respon diluar dugaannya, lantas yang masuk ke netranya adalah sebuah senyuman bahagia dan jemari Ki meraih jemari Nata yang sudah penuh keringat karena gugup. Dan, Nata sendiri tak tahu harus berekspresi  seperti  apa.

 

Jelas. Ini  adalah mimpi  buruk  untuknya, baru  tempo  hari  ia  mendengar  Ibunya  menghina Ki dan menghujam lelaki  yang ada dihadapannya ini dengan kata -kata yang tak pantas diucapkan oleh seorang  yang  dipanggil  ‘Ibu’ dengan begitu  baik  dirinya  atau  Ki  bisa  mati  hidup -hidup  atau Ki  pasti  akan  dikirim  jauh agar tak bertemu lagi dengan Nata.

 

Seharusnya, diwaktu  seperti  ini  Ki  tidak  berekspresi  seperti  itu  didepan Nata. Setidaknya  ia  harus merasakan bagaimana paniknya  Nata dan gugupnya  ia mengatakan itu.

 

“Ki –kenapa  kau  berekspresi  seperti itu? —aku tidak bergurau, Ki. Setidaknya, carilah  solusinya.” Nata berujar begitu panik  dan  kental  terdengar  seperti  ia  menahan dirinya  untuk  tak  menjatuhkan  air  matanya  yang  sebentar lagi  lolos  kalau -kalau Ki  menanggapinya  tidak serius.

 

“Kita  menikah  saja  kalau  begitu.” tukas Ki santai, ia kemudian mengeluarkan sebuah cincin, bukan dari  kotak beludru yang mewah. Hanya dari saku celananya yang berwarna sudah kusam itu. Lantas setelahnya, ia berlutut dan memberikan cincin itu pada Nata, melakukan lamaran ditengah suasana hati Nata yang tidak baik sama sekali  malah membuat  gadis  itu  hanya  meneteskan  air  matanya  tanpa  henti.

 

“Ryu Nata, menikahlah  dengan  orang  yang  telah  membuat  masalah  ini   muncul. Mari,  kita  rawat  anak yang  ada diperutmu  hingga  besar. Ryu Nata -ssi, apa kau  bersedia hidup  bersamaku  untuk  selama -lamanya?Menghadapi  segala  kesusahan  yang muncul  dan  perbedaan  yang telah  terjadi  diantara kita, apa  kau  bersedia  menerimanya?..”

 

Nata  hanya  termangu tidak  ada  opsi  lagi  untuk  menjawab  tawaran  Ki  yang  benar -benar  terdengar  yakin  dan berani. Hanya  ada  jawaban ‘iya’ yang berputar  dikepalanya. Hatinya  seakan lumer  mendengar  pernyataan Ki  yang  diluar  dugaan seorang  Ryu  Nata.

 

Maka, dengan yakin pula  gadis  itu mengangukkan kepalanya  dan tersenyum lebar lalu bersuara.

 

“Ya, Aku bersedia —Ki Ha Myung -ssi.”

 

Hari itu, seperti  hari  terakhir  Nata  tertawa bahagia. Sebelum, Tuhan merenggutnya   dan  membawanya  kedalam  lubang  hitam  yang  tak  diketahui  seberapa  dalamnya, Nata  bagaikan hanya melayang  dan  tak ada yang tahu  kapan ia tiba didasar dengan keadaan  hancur bahkan mungkin  yang  paling kejam  adalah  kematian  rasa.

 

Bersambung..

Hello~~ update dilakukan karena punya waktu dan gak bertele-tele lagi cerita ini belom selesai jadi kalo stuck disini.. gue minta maaf banget yaa karena di PCY FFI gue belom bisa apdate and, yah kelas 12 gak maen” emang -__- jadi susah gampang buat nulis dan lagi gak kepengen nulis yang drama makjang macem adorable love ini kekeke so sorry and, yang baca boleh kok promote asalkan gak jiplak aja. THANKS!!

Iklan

Give Your Comment ~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s